Mengenai Saya

Foto Saya
tangerang, tangerang, Indonesia
ان اكون احسنهم خلقا ان اكون اوسعهم علم ان اكون اجملهم صورا ان اكون اكثرهم مالا
Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

modul pharmaceutika


PENDAHULUAN

Farmasetika dasar merupakan mata kuliah wajib untuk mahasiswa program studi farmasi UIN Syarif Hidayatullah. Studi ini penting untuk mendapatkan teori dasar ilmu farmasetika. Ilmu farmasetika merupakan ilmu meracik sediaan-sediaan padat dan setengah padat serta sediaan cair yang terdapat dalam buku standar serta resep-resep dari dokter. Saat ini dengan perkembangan teknologi sediaan farmasi menyebabkan makin berkurangnya sediaan farmasi yang diracik dan disiapkan di apotek. Namun  demikian ilmu meracik dan menyiapkan obat tetap harus  diketahui dan dipahami oleh mahasiswa sebagai ilmu dasar pembuatan obat dan pada saat diperlukan dan sarana terbatas dapat  menyiapkan obat.
                                                                                               
       

I.       Deskripsi  Mata Kuliah
Farmasetika dasar adalah salah satu ilmu dasar dalam bidang farmasetika yang berkaitan dengan penyiapan, peracikan/pembuatan serta penyerahan obat terutama di apotek yang meliputi aturan-aturan dan cara pembuatan sediaan padat (pulvis, pulveres/puyer, kapsul, suppositoria, pil), sediaan setengah padat  (salep, pasta & krim) serta sediaan cair (larutan, sirup, eliksir, saturasi, suspensi, emulsi).

II.          Tujuan Umum
Mahasiswa dapat menjelaskan dan menerapkan teori-teori dasar farmasetika dalam pembuatan sediaan obat bentuk padat (pulvis, pulveres/puyer, kapsul, suppositoria, pil), sediaan setengah padat  (salep, pasta & krim) serta sediaan cair (larutan, sirup, eliksir, saturasi, suspensi, emulsi).

     
III.   Strategi Pembelajaran
Mata kuliah farmasetika dasar berbobot 2 SKS. Dalam proses belajar mengajar, metode yang digunakan adalah ceramah dan tanya jawab serta diskusi dengan presentasi yang dilakukan mahasiswa  yang relevan dengan materi kuliah. Pelaksanaan kuliah sebanyak 14 kali tatap muka dan 2 kali evaluasi.

IV.       Evaluasi
Evaluasi mata ajar dilakukan berdasarkan evaluasi ujian tengah semester dan ujian akhir semester dan tugas-tugas yang dilakukan oleh mahasiswa.

V.          Sarana dan prasarana
Sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk mata ajar ini adalah ruang kuliah, LCD, OHP, dan alat tulis /whiiteboard & spidol. Sarana yang mendukung adalah perpustakaan dan internet.





POKOK BAHASAN I

TOPIK POKOK BAHASAN  I :  RESEP

Tujuan instruksional umum :
Mahasiswa dapat mengetahui aturan-aturan obat dalam resep dan aspek pelayanan resep di apotek
Tujuan instruksional khusus :
1.      mampu menjelaskan persyaratan/kelengkapan resep, salinan resep dan etiket obat
2.      mampu menjelaskan tentang penyimpanan & pemusnahan resep di apotek
3.      Dapat membaca resep, tanda/singkatan dalam bahasa latin
4.      Mampu menjelaskan aspek pelayanan resep di apotek

Metoda : ceramah, diskusi/tanya jawab
Waktu : 120 menit






I. RESEP

A.    Definisi Resep
Resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi & dokter hewan kepada apoteker pengelola apotik utk menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita, sesuai perundang-undangan yang berlaku.
Yang berhak menulis resep :
1.      Dokter yang telah mempunyai ijazah yang diakui pemerintah dan telah disumpah serta mempunyai izin kerja dari Departemen kesehatan RI
2.      Dokter gigi khusus untuk pengobatan gigi
3.      Dokter hewan khusus untuk pengobatan hewan

B.     Persyaratan resep
Resep harus memuat :
1.                                          Nama, alamat dan nomor izin praktek dokter, dokter gigi atau dokter hewan
2.                                          Tempat dan tanggal penulisan resep
3.                                          Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan resep (superscriptio) 
4.      Nama setiap obat atau komposisi obat (inscriptio) dan cara pembuatan /bentuk sediaan yang dikehendaki (subscriptio)
5.                                          Aturan pakai obat (signatura), ditulis dengan singkatan bahasa latin
6.                                          Nama penderita dibelakang kata pro, umur (anak-anak)  dan alamat
7.                                          Jenis hewan dan nama serta alamat pemiliknya untuk resep dokter hewan
8.                                          Tanda tangan atau paraf dokter
9.      Tanda seru atau paraf dokter untuk setiap resep yang megandung obat yang jumlahnya melebihi dosis maksimal

C. Salinan resep (apograph)
Salinan resep yaitu salinan yang dibuat oleh apoteker yang memmuat semua keterangan yang ada pada resep asli, harus memuat pula :
1.      Nama dan alamat apotik
2.      Nama dan nomor Surat Izin Apotik
3.      Nomor resep dan tanggal pembuatan
4.      Tanda det/detur untuk obat yang sudah diserahkan dan tanda nedet untuk obat yang belum diserahkan
5.      Tanda tangan apoteker
Salinan resep dibuat apotik berdasarkan :
1.      Permintaan dokter, jika ada tanda iter dikertas resep asli
2.      Permintaan penderita, jika pada resep asli dari dokter tidak mengandung bahan obat narkotik

D. Etiket
Obat yg diserahkan atas resep dokter harus dilengkapi dengan etiket, yang terdiri dari: 
1.      Etiket warna putih untuk obat dalam
2.      Etiket warna biru untuk obat luar
Pada etiket harus tertulis :
1.      Nama dan alamat apotek
2.      Nama APA dan nomor SIA
3.      Nomor dan tanggal pembuatan
4.      Nama penderita
5.      Aturan pakai
6.      Utk obat luar, perlu ditulis “Obat Luar” pada bagian bawah sebelah kiri
7.      Tanda “ tidak boleh diulang tanpa resep dokter”, jika resep memgandung narkotik dan obat keras
8.      Tanda “kocok dahulu” untuk obat cair seperti; suspensi, emulsi

E.  Bahasa Latin dalam Resep
Bahasa yang digunakan  pada penulisan resep yaitu bahasa latin , tidak saja untuk penulisan nama-nama obat tetapi juga untuk ketentuan ketentuan mengenai pembuatan obat, termasuk petunjuk aturan pakai obat yang umumnya ditulis berupa singkatan.
Beberapa alasan penggunaan bahasa latin yaitu  :
1.      Bahasa latin merupakan bahasa mati dan pokok kalimatnya tidak berubah
2.      Bahasa latin merupakan bahasa internasional yang dapat dimengerti dalam dunia kefarmasian dan kedokteran diseluruh dunia
3.      Bahasa latin merupakan bahasa eksak dan mempunyai arti tertentu
4.      Bahasa latin mencegah penderita membaca resep dengan mudah

F.  Penyimpanan dan pemusnahan  resep
1.      Resep disimpan di apotek menurut urutan tanggal dan nomor urut penerimaan atau pembuatan resep
2.      Penyimpanan resep yang mengandung narkotik harus dipisahkan dari resep lainnya, tandai garis merah dibawah nama obatnya
3.      Lama penyimpanan resep 3 tahun, setelah jangka waktu tersebut resep dapat dimusnahkan oleh apoteker dengan disaksikan sekurang-kurangnya 1 orag petugas apotek
4.      Pemusnahan resep harus dibuat berita acaranya yang menyebutkan hari dan tanggal pemusnahan, tanggal yang terawal dan terakhir resep serta berat seluruh resep yg dimusnahkan (dalam kilogram)

G. Resep narkotik
Resep yang mengandung narkotik hrs :
1.      Ditulis asli dari dokter, tidak boleh ada ulangan (iter)
2.      Ditulis nama penderita, tidak boleh ditulis “untuk pemakaian sendiri”
3.      Alamat penderita
4.      Aturan pakai yang jelas, tidak boleh ditulis “cara pakai sudah diketahui”









Contoh resep
Dr. Widya Indriyati
SIP no. 128/K/85
Jl. Pahlawan revolusi no.681
Telp. 8603554
Jakarta Timur
Jakarta, 22 september 2005
                        R/ Theophilin 200 mg
                             Prednison               5 mg
                             CTM                       2 mg
                             SL                          qs
                             m.f.pulv.dtd No XV
                             da in caps
                             S.t.d.d.caps I
                       
                        R/ panadol sirup 120
                            S.t.d.d C1
Paraf/tanda tangan dokter

Pro : Tn.Cecep Budiman (dewasa)







Contoh Salinan Resep
Apotek wahana Sehat
Jl. Borobudur No.31 Serang
Apoteker : Nurmeilis M.Si, Apt
SIP N0. 01.01.V.5.25689
Serang, 1 Mei 2006
Resep untuk : Cecep Budiman
Resep dari dokter : dr.Widya Indriyati
Tgl ditulis resep : 30 April 2006
Tgl dan no pembuatan : 1 Mei 2006/ 92

                        R/ Theophilin 200 mg
                             Prednison               5 mg
                             CTM                       2 mg
                             SL                          qs
                             m.f.pulv.dtd No XV
                             da in caps
                             S.t.d.d.caps I
detur
R/ Panadol sirup 120
                             S.t.d.d.C1 
                                                                        nedet                                      

                                                                        p.c.c
cap apotek
yang menyalin :
paraf/tanda tangan APOTEKER

( Nurmeilis, M.Si, Apt )

det= detur = obat yang sudah diserahkan
nedet =ne detur = obat belum diserahkan
p.c.c = pro copie conform = sesuai dengan aslinya

Singkatan bahasa latin yang sering ditulis dalam resep tentang aturan pakai
·         tentang waktunya
            o.h.c = omni hora cochlear = tiap jam 1 sendok makan
o.b.h.c = omni bihorio cochlear – tiap 2 jam 1 sendok makan
o.3.h.c = omni trihorio cochlear = tiap 3 jam 1 sendok makan
o.4.h.c = omnibus quatuor horis cochlear = tiap 4 jam 1 sendok makan
o.5.h.c = omnibus quinque horis cochlear = tiap 5 jam 1 sendok makan
s.d.d.c = semel de die cochlear = 1 kali sehari sekian semdok makan
t.d.d.c = ter de die cochlear = 3 kali sehari sekian sendok makan
q.d.d.c = quarter de die cochlear = 4 kali sehari sekian sendok makan
6.d.d.c = sexies de die cochlear = 6 kali sehari sekian sendok makan
p.c = post coenam = setelah makan
a.c = ante coenam = sebelum makan
m = mane = pagi-pagi
merid = meridie = tengah hari
vesp = vespere = sore
noct = nocte = malam
·         tentang pemberian obat
i.m.m = in manum medici = diserahkan oleh dokter
da cum formula = berilah dengan formula
dacum formula dorso signature = berilah dgn formula, ditulis dibelakang etiket
signa suo nominee = tandailah nama pokok obat
ne repetatur = ne iteretur = tidak diulang
repetatur (iteretur) medicamentum ultimum = diulang obat yang terakhir
repetatur (iteretur) medicamentum ultimo praesriptum = diulang obat yang tertulis dalam resep  terakhir
repetatur (iteretur) ter = diulang tiga  kali
repetatur (iteretur) quarter = diulang 4 kali
d.i.d = da in dimidio = berilah separonya
d.i.2plo = da in duplo = berilah dua kalinya
d.i.3plo = berilah tiga kalinya


H. PELAYANAN  RESEP  DI APOTEK

Apotek adalah tempat dilakukannya pekerjaan kefarmasian dan penyaluran
sediaan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat
Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus pendidikan profesi dan telah mengucapkan sumpah berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dan berhak melakukan pekerjaan kefarmasian di Indonesia sebagai apoteker
Sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetik
Perbekalan kesehatan adalah semua bahan selain obat dan peralatan yang diperlukan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan 

Pelayanan resep di apotek meliputi:        
1.      Skrining resep
Apoteker melakukan skrining resep meliputi :
a.       Kelengkapan resep : nama, SIP dan alamat dokter, tanggal penulisan resep, nama obat, dosis dan jumlah obat yang diminta serta cara pakai yang jelas
b.      Kesesuaian farmasetik : bentuk sediaan, dosis, stabilitas, inkompatibilitas, cara dan lama pemberian
c.       Pertimbangan klinis : adanya alergi, efek samping, interaksi, jika ada keraguan terhadap resep hendaknya dikonsultasikan kepada dokter penulis resep dengan memberikan pertimbangan dan alternatif seperlunya

2.      Penyiapan obat
a.       Peracikan : merupakan kegiatan menyiapkan, menimbang, mencapur, mengemas dan memberikan etiket pada wadah
b.      Etiket : etiket harus jelas dan dapat dibaca
c.       Penyerahan obat : sebelum diserahkan harus dilakukan pemeriksaan akhir terhadap kesesuaian antara obat dengan resep. Penyerahan dilakukan oleh apoteker disertai pemberian informasi obat & konseling kepada pasien

3.      Informasi obat :
apoteker hrs memberikan informasi yang benar, jelas, dan mudah dimengerti, akurat, etis, bijaksana. Informasi sekurang-kurangnya meliputi cara pemakaian obat, cara penyimpanan, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yangg harus dihindari selama terapi
4.      Konseling
apoteker harus memberikan konseling mengenai sediaan farmasi, pengobatan & perbekalan kesehatan lainnya sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien
5.      Monitoring Penggunaan Obat
Setelah penyerahan obat kepada pasien, apoteker harus melaksanakan pemantauan penggunaan obat, terutama untuk pasien tertentu seperti kardiovascular, diabetes, TBC, asma dan penyakit kronis lainnya

Kesimpulan
1.      Resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi & dokter hewan kepada apoteker pengelola apotik utk menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita, sesuai perundang-undangan yang berlaku.
2.      Resep disimpan di apotek menurut urutan tanggal dan nomor urut penerimaan atau pembuatan resep selama jangka waktu 3 tahun, setelah itu dapat dimusnahkan.

Evaluasi
  1. Jelaskan tentang pelayanan resep di apotek !
  2. Jelaskan alasan penggunaan bahasa latin pada resep !
  3. Jelaskan arti dan singkatan bahasa latin dibawah ini :
m.f pulv. da in cap d.t.d no X
S.t.d.d I  p.c


POKOK BAHASAN  II
Topik : Penggolongan Obat
Tujuan  instruksional umum :
Mahasiswa dapat mengetahui dan menjelaskan peraturan perundang-undangan tentang obat narkotik, psikotropik , obat keras & obat bebas
Tujuan instruksional khusus :
1.          Mampu menjelaskan peraturan tentang obat narkotik (meliputi penyaluran/distribusi ,  penyerahan obat, tanda khusus/logo)
2.          Mampu menjelaskan peraturan tentang obat psikotropik (meliputi penyaluran/distribusi ,  penyerahan obat, tanda khusus/logo)
3.          Mampu menjelaskan peraturan tentang obat keras (meliputi penyaluran/distribusi ,  penyerahan  obat, tanda khusus/logo)
4.          Mampu menjelaskan peraturan tentang obat bebas terbatas (meliputi penyaluran/distribusi ,  penyerahan obat, tanda khusus/logo)
5.          Mampu menjelaskan peraturan tentang obat bebas (meliputi penyaluran/distribusi ,  penyerahan obat, tanda khusus/logo)

Metoda : ceramah, diskusi/tanya jawab
Waktu : 120 menit




II. PENGGOLONGAN  OBAT

Berdasarkan peraturan perundang-undangan obat digolongkan menjadi :
1.      Obat Narkotika
2.      Obat Psikotropika 
3.      Obat Keras
4.      Obat Bebas Terbatas
5.      Obat Bebas

1.  Obat Narkotika
Diatur dalam Undang-Undang No. 22 tahun 1997, yang terdiri dari 15 Bab, 104 pasal
Narkotika adalah zat/obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.
Penggolongan Narkotik
  1. Narkotika golongan I
Yang termasuk golongan ini adalah; Opium mentah ( getah yang diperoleh dari buah Papaver somniverum ), Opium masak ( candu ), Tanaman Koka ( genus Erytroxylon ), Kokain, Tnaman ganja ( genus Canabis ) Heroin, Desmorpin.

  1. Narkotika golongan II
Yang termasuk golongan ini adalah ; Alfasetilmetadol, Alfametadol, Difenoksilat, Fentanil, Tebain, Benzil morfin, Morfin, Petidin.
  1. Narkotika golongan III
Yang termasuk golongan ini adalah; Codein, Dihidrokodein, Sediaan/campuran Difenoksilat dengan bahan lain.
Pengaturan Narkotik bertujuan untuk :
1.      Menjamin ketersediaan narkotik untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan pengembangnan ilmu pengetahuan
2.      Mencegh terjadinya penyalahgunaan narkotik
3.      Membrantas peredaran gelap narkotik
Penyerahan obat narkotik
·         Penyerahan narkotik hanya dapat dilakukan oleh; Apotek, Rumah Sakit, Puskesmas, Balai Pengobatan, Dokter.
·         Penyerahan narkotik oleh dokter dalam hal
-          Menjalani  praktek dokter dan diberikan lewat suntikan
-          Menolong orang sakit dalam keadaan darurat
-          Menjalankan tugas di daerah terpencil yang tidak ada Apotek
·         Untuk memperoleh narkotika harus dengan resep asli dari dokter dan tidak dapat diulang.

 

 
Tanda khusus obat narkotik adalah lingkaran dengan palang merah di dalamnya dan garis tepi warna hitam.


JALUR DISTRIBUSI  NARKOTIK

PT Kimia Farma adalah satu-satunya importer bahan baku dan obat jadi narkotik. Setelah bahan baku diolah menjadi obat jadi, kemudian disalurkan ke PBF PT Kimia Farma cabang diseluruh daerah Indonesia.

2.  Obat Psikotropika
Diatur dalam Undang-Undang RI No. 5 tahun 1997, sebelumnya hanya diatur oleh Permenkes No. 124 tahun 1993.
Psikotropika adalah zat/obat baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika yang berkhasist psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan prilaku.
Penggolongan Psikotropik
  1. Psikotropik golongan I
Hanya digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan, missal Etisiklidin, Lisirgida (LSD), Brolamfetamin.
  1. Psikotropik golongan II
Amfetamin, Metil fenidat, Fenmetrazin.
  1. Psikotropik golongan III
Amobarbital, Fentazosin, Pentobarbital.
  1. Psikotropik golongan IV
Barbital, Diazepam, Bromazepam, Alobarbital, Kordiazepoksid.

Penyaluran psikotropika hanya dapat dilakukan oleh pabrik obat kepada PBF, Apotek, Rumah Sakit,Lembaga pendidikan/penelitian, Sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah (balai pengobatan, Puskesmas).
Penyerahan psikotropika harus dengan resep dokter.

Tanda khusus obat psikotropik sama dengan tanda khusus obat keras yaitu lingkaran berwarna merah  dan garis tepi warna hitam dengan huruf K didalamnya yang menyentuh garis tepi.
 





3.  Obat Keras
Diatur dalam SK Menkes RI tahun 1986 No. 02396/A/SK/VIII/86
Yang termasuk obat keras :
  1. Semua obat yang pada bungkus luarnya disebutkan “ hanya boleh diserahkan dengan resep dokter “
  2. Semua obat yang dibungkus sedemikian rupa yang nyata-nyata digunakan secara parental
  3. Semua obat baru , kecuali apabila oleh depkes RI telah dinyatakan secara tertulis, bahan obat baru tersebut tidak membahayakan kesehatan manusia.
  4. Obat baru yang dimaksud yaitu semua obat yang tidak tercantum dalam Farmakope Indonesia dan daftar obat keras atau obat yang hingga saat dikeluarkannya Surat Keputusan ini secara resmi belum pernah diimport atau digunakan di Indonesia

Penyerahan obat keras
  1. Atas resep dokter, dokter gigi dan dokter hewan
-    pengulangan dengan copy resep diperbolehkan bila dokter membubuhi tanda “iter”
-    disamping etiket harus disertai label “tidak boleh diulang tanpa resep dokter
  1. penyerahan obat keras dalam jumlah banyak  hanya boleh diserahkan kepada; PBF yang diakui, dokter, Apoteker Pengelola Apotek (APA)



Jalur Distribusi Obat Keras
Dokter tidak diperbolehkan membeli obat-obat keras langsung ke PBF tetapi harus mengambilnya di apotek berdasarkan resep dokter. Pasien dengan resep dokter dapat mengambil obat keras di apotek

PBF penyalur
Bahan baku obat
 


Pabrik farmasi

PBF Sole distributor

PBF Cabang

                        Apotik               Apotik RS/Puskesmas

                        Dokter              Pasien

4.  Obat Bebas Terbatas
Obat bebas terbatas yaitu obat yang dalam jumlah atau kadar tertentu dapat dijual tanpa resep dokter dan jenis penyakitnya dianggap telah dpat ditentukan sendiri oleh masyarakat.
Penyerahannya harus dengan bungkus asli (dari pabrik) yang disertai tanda peringatan dan brosur, yang menerangkan cara pemakaian, dosis, kontraindikasi, peringatan kemungkinan terjadinya efek samping, interaksi obat dan perhatian lain yang dianggap perlu. 
Tanda peringatan yang tercantum pada bungkus dan brosur obat bebas terbatas yaitu : kotak warna hitam dengan  tulisan berwarna putih, ukuran P= 5 cm, L= 2 cm.
P No.2
Awas ! Obat Keras
Hanya untuk dikumur,jangan ditelan
 

P No.5
Awas ! Obat Keras
Tidak boleh ditelan

 
P No.3
Awas! Obat Keras
Hanya untuk bagian luar badan
 



Tanda khusus obat bebas terbatas adalah
 lingkaran warna biru dengan garis tepi hitam,
dengan ukuran diameter dan tebal garis tepi proporsional 1 cm dan 1 mm.

4.  Obat Bebas
Obat bebas adalah obat yang dapat diserahkan tanpa resep dokter
Tanda khusus obat bebas adalah :
Lingkaran warna hijau dengan garis tepi hitam
Dengan ukuran diameter dan tebal garis proporsional 1 cm & 1 mm

Kriteria obat yang dapat diserahkan tanpa resep
Diatur oleh Permenkes No. 919/ Menkes/Per/X/1993
1.      Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak di bawah 2 tahun dan orang tua di atas 65 tahun.
2.      Penggunaannya tidak memerlukan cara atau alat khusus yang harus dilakukan oleh tenaga kesehatan
3.      Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di Indonesia
4.      Obat tersebut memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk pemakaian sendiri
5.      Pengobatan sendiri tidak memberikan resiko pada kelanjutan penyakit.

Kesimpulan
1.      penggolongan obat berdasarkan peraturan perundang-undangan terbagi menjadi 5 golongan yaitu obat narkotik dan obat psikotropik yg diatur oleh UU RI sedangkan obat keras, obat bebas terbatas dan obat bebas cukup diatur berdasarkan PerMenKes
2.      Penyerahan obat narkotik, psikotropik dan obat keras harus berdasarkan resep dokter, sedangkan obat bebas terbatas dan obat bebas penyerahannya tanpa resep dokter

Evaluasi
1.      Jelaskan perbedaan antara obat bebas dengan obat bebas terbatas  !
2.      Jelaskan tentang penyerahan obat keras dan jalur distribusinya !

POKOK  BAHASAN  III
Topik : Bentuk Sediaan Obat dan Rute Pemberian Obat

Tujuan Instruksional umum :
            Mahasiswa mengetahui dan mampu menjelaskan tentang bentuk-bentuk sediaan obat dan rute pemberiannya
Tujuan Instruksional umum :
·         Mengetahui  bentuk-bentuk sediaan farmasi dan contoh-contohnya
·         Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan bentuk sediaan farmasi
·         Mengetahui rute/cara-cara pemberian obat dengan keuntungan dan kerugiannya masing-masing rute pemberian obat

Metoda : ceramah, diskusi/tanya jawab
Waktu : 120 menit








III.  BENTUK SEDIAAN  DAN  RUTE
PEMBERIAN OBAT

  1. BENTUK SEDIAAN OBAT
Bentuk sediaan obat ialah sediaan yag mengandung satu atau beberapa zat berkhasiat , umumnya dimasukan dalam suatu vehikulum yang diperlukan untuk formulasi hingga didapat suatu produk ( dengan dosis, volume serta sediaan yang diinginkan) yang siap untuk diminum atau dipakai oleh penderita.
Menurut bentuk sediaannya, obat terbagi atas 3  yaitu obat bentuk padat, setengah padat dan cair.
Obat bentuk padat
1.      Pulvis (serbuk tidak terbagi), yaitu bahan atau campuran yang homogen dari bahan-bahan yang diserbukan dan berada daalam keadaan relatif kering
2.      Pulveres (serbuk bagi/puyer), yaitu serbuk yang terbagi berupa bungkus-bungkus kecil dalam kertas, digunakan untuk obat dalam
3.      Kapsul, yaitu  sediaan padat yang mengandung obat terbungkus dalam cangkang kapsul , keras atau lunak yang dapat larut
4.      Tablet, yaitu bentuk sediaan padat yang dibuat dengan cara kempa atau dg mencetak  dan mengandung zat obat dengan atau tanpa bahan pengikat, penghancur, penyalut dan bahan pembantu lainnya
5.      Tablet salut, yaitu tablet yang dilapisi dengan bahan tertentu
6.      Suppositoria, yaitu sediaan padat dalam berbagai bobot & bentuk yg diberikan melalui rektal, vagina atau uretra, umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh.
7.      Pil, yaitu bentuk sediaan berupa bola kecil yang mengandung satu atau lebih bahan obat dengan zat tambahan yang cocok.

Obat bentuk setengah padat/semi solid
1.      Salep, yaitu sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar
2.      Pasta, yaitu obat luar yang digunakan pada kulit, mengandung bahan padat yang lebih besar daripada salep, konsistensinya lebih kenyal dan lebih kaku dari salep
3.      Krim, yaitu sediaan berupa emulsi kental mengandung tidak kurang dari 60 % air, dimaksudkan untuk pemakaian luar

Obat bentuk cair
1.      Larutan/ solution , yaitu sediaan cair yang mengandung bahan obat (solute) yang  terlarut dalam pembawa air/solven
2.      Sirup, yaitu larutan pekat gula yang ditambah obat atau zat pewangi, kadar sakarosa dalam sirup 64-66 %
3.      Eliksir, yaitu larutan hidroalkohol yang jernih dan manis , digunakan sebagai obat dalam
4.      Saturasi, obat minum yang dibuat dengan mereaksikan suatu asam dengan basa (carbonat atau bicarbonat), dimana harus dijaga supaya cairan mengandung gas CO2 yang jenuh.
5.      Suspensi,  merupakan sediaan cair yang mengandung bahan padat yang terdispersi dalam bahan pembawa
6.      Emulsi,  merupakan campuran dua zat cair/lebih yang tidak bercampur satu sama lain, tapi dapat bercampur secara homogen dengan bantuan suatu emulgator.
Sediaan cair berdasarkan pemakaiannya terbagi atas :
1.      Secara oral                                     : sirup, eliksir, potio, mixtura
2.      Mulut dan kerongkongan              : obat kumur (gargarisma) dan pencuci mulut
3.      Aliran darah                                  : injeksi, infus
4.      Dimasukan dlm rongga tubuh       : obat tetes (guttae) telinga, hidung
5.      Pada permukaan tubuh                 : lotio, linimen

Faktor Bahan Obat yang menentukan pemilihan bentuk  sediaan obat
  1. Sifat fisikokimia bahan obat
a.       Bahan obat higroskopis : harus  diberikan dalam bentuk solution/obat minum
b.      Bahan obat tidak larut dalam air : diberikan dalam bentuk padat (tablet, kapsul, pulveres). Misal asetosal, chloramphenikol, sulfadiazin
  1. Sifat farmakokinetik bahan obat
Obat yang mengalami “first pass effect” pada hati kurang efektif bila diberikan dalam salah satu bentuk sediaan oral karena akan mengurangi bioavailabilitas obat
  1. Bentuk sediaan yang paling stabil
Misal vitamin C, mudah larut dalam air tetapi tidak diberikan dalam bentuk obat minum/larutan karena tidak stabil, maka dipilih bentuk sediaan tablet yang lebih stabil
Faktor penderita yang menentukan pemilihan bentuk  sediaan obat
1.      Umur penderita
a.       Anak balita : sebaiknya obat diberikan oral dalam bentuk sediaan cairan (sirup, suspensi, emulsi) karena lebih gampang diminum daripada bentuk sediaan padat. Bentuk sediaan padat yang masih dapat diberikan ialah bentuk pulveres (puyer)
b.      Orang dewasa : obat yang diberikan per oral lebih sering dalam bentuk sediaan padat (tablet, kapsul) karena lebih stabil dalam penyimpanan daripada bentuk sediaan cair
c.       Lanjut usia (geriatrik) ; penderita lanjut usia yang kesulitan menelan pilih bentuk sediaan cair seperti pada anak-anak (sirup, suspensi, emulsi)
2.      Lokasi/bagian  tubuh dimana obat harus bekerja
a.       Efek lokal ; untuk mendapatkan efek local bisa dipilih bentuk sediaan salep/krim, pasta. Lotio, liniment
b.      Efek sistemik ; untuk mendapatkan efek sistemik bisa dipilih bentuk sediaan padat atau cair per oral atau rectal
3.      Kecepatan dan lama kerja obat  yang dikehendaki
Obat bentuk injeksi lebih cepat diabsorpsi daripada bentuk sediaan yang diberikan secara per oral atau rectal.. Contoh : kecepatan penyerapan aminophilin dari berbagai bentuk sediaan : injeksi > solutio > pulveres > kapsul
4.      Keadaan umum penderita
a.       Pasien tidak sadar : dipilih bentuk injeksi atau rektal
b.      Pasien hiper-emesis, post opersasi saluran makan
5.      Efek terapeutik obat yang optimal dan efek samping minimal
Misal vitamin C dalam bentuk obat minum akan terurai, maka diberikan dalam bentuk tablet
6.      Bentuk sediaan obat yang paling “enak/cocok” bagi penderita
Bahan obat yang sangat pahit walaupun mudah larut dalam air tidak diberikan dalam bentuk obat minum karena akan terlalu terasa pahit, maka diberikan salam bentuk kapsul atau tablet. Misalnya chloramfenikol, chinin sulfas

Pertimbangan dalam pemilihan bentuk sediaan
1.      Untuk melindungi zat obat dari pengaruh oksigen, udara atau kelembaban
2.      Untuk melindungi zat obat terhadap pengaruh yang merusak dari asam lambung setelah pemberian oral
3.      Menutupi rasa pahit, asin atau bau tidak enak dari bahan obat
4.      Menyediakan sediaan cair dari zat yang tidak larut atau tidak stabil dalam pembawa
5.      Menyediakan sediaan cair dari zat yang larut dalam pembawa yang diinginkan
6.      Melengkapi kerja obat yang optimum dari tempat pemberian secara topikal
7.      Memberikan penempatan obat ke dalam salah satu lubang dari badan
8.      Memberikan penempatan obat secara langsung ke dalam aliran darah
9.      Memberikan kerja obat yang optimum melalui inhalasi
10.  Menyediakan obat dengan kerja yang luas dengan mengatur pelepasan obat
  1. RUTE PEMBERIAN OBAT
1.      Oral
Adalah rute pemberian obat melalui mulut, untuk mendapatkan efek sistemik
Keuntungan          : cara yang paling umum, praktis, mudah dan aman
Kerugian               : kerja obat lama, absorpsi sering tidak teratur, kerusakan        
                                beberapa obat oleh reaksi di lambung
Bentuk sediaan     : tablet, kapsul, larutan
2.      Sublingual
Adalah rute Pemberian obat dikunyah halus dan ditaruh dibawah lidah
Keuntungan          : obat langsung masuk ke peredaran darah tanpa melalui hati
Kerugian               : kurang praktis dan dapat merangsang selaput lendir mulut
Bentuk sediaan     : tablet, tablet hisap
3.      Parenteral
Adalah rute Pemberian obat yang diberikan melalui suntikan, tidak melalui sistem pencernaan.
Beberapa cara pemberian secara parenteral/injeksi
a.       Iv (intravena) : masuk melalui pembuluh darah balik/vena
b.      Im (intramuscular) : menembus otot daging
c.       Sc (subcutan) : melalui bawah kulit, memberi efek sistemik
d.      Intrakutan : menembus kulit, memberi efek sistemik
e.       Intrakardial : menembus jantung
Keuntungan :
·         Efek yang timbul sangat cepat, kuat
·         Berguna pada pasien yang tidak sadar
·         Dapat diberikan untuk pasien yang tidak bisa menerima obat secara oral
·         Dapat dihindari obat-obat yang rusak dalam saluran cerna
·         Dengan pemberian injeksi intravena dapat diperoleh kadar obat dalam darah yang optimum dalam waktu cepat & akurat
Kerugian :
·         Sukar digunakan untuk pasien sendiri/tidak praktis
·         Terasa nyeri, ada bahaya infeksi
·         Obat sukar ditarik kembali, jika terdapat kesalahan dosis
·         Lebih mahal
Bentuk sediaan parenteral/injeksi dapat berupa larutan, suspensi atau emulsi yang steril dalam air, minyak atau pelarut lain.
4.      Rektal
Adalah rute pemberian obat melalui rektum/dubur, untuk mendapatkan  efek lokal dan juga sistemik
Keuntungan :
·         dapat diberikan pada pasien tidak sadar / tidak mampu menelan obat, atau cara oral terhalang oleh muntah.
·         Absorpsinya tidak melewati hati, dapat digunakan untuk obat-obat yang cepat dirusak di hati
Kerugiannya :
·         Cara pakainya tdk menyenangkan
·         Absorpsi obatnya tidak teratur dan sukar diramalkan  
Bentuk sediaan obat yang digunakan : larutan, suppositoria, salep
5.      Topikal/kulit
Adalah rute pemberian yang digunakan pd kulit untuk efek lokal
Bentuk sediaan yang digunakan adalah  salep, krim, pasta, lotion

Memilih rute penggunaan obat
Memilih rute penggunaan obat tergantung dari:
1.      Tujuan terapi menghendaki efek lokal atau sistemik
2.      Apakah kerja awal obat yang dikehendaki itu cepat atau masa kerjanya lama
3.      Stabilitas obat dalam lambung dan usus
4.      Rute yang tepat dan menyenangkan bagi pasien
5.      Kemampuan pasien menelan obat
Kesimpulan

Cara pemberian
Bentuk sediaan
1
Oral
Serbuk/pulveres
Tablet
Kapsul
Larutan
Sirop
Eliksir
Suspensi
Emulsi
2
sublingual
Tablet
Tablet hisap
3
parenteral
Larutan
Suspensi
4
Rectal/vaginal/uretral
Larutan-larutan
Salep
Supositoria
Busa-busa emulsi
5
Transdermal/topikal
Salep
Krim
Pasta
Plester
Lotio
Erosol
6
Intraocular
Larutan
Suspensi
7
Intranasal

Larutan
Inhalan
Salep
Semprot

Evaluasi
  1. Jelaskan pertimbangan dalam menentukan pemilihan  bentuk sediaan obat !
  2. Jelaskan keuntungan dan kerugian pemberian obat secara oral dan parenteral !








POKOK BAHASAN  IV

TOPIK :  DOSIS OBAT
Tujuan instruksional umum :
Mahasiswa  mengetahui istilah-istilah dosis obat dan mapu menghitiug dosis
Tujuan instruksional khusus :
·         Mampu menjelaskan pengertian dosis obat (dosis terapi, dosis maksimum, dosis toksik)  serta rumus perhitungan dosis anak
·         Menjelaskan  faktor-faktor yang mempengaruhi dosis obat 
·         Mampu menghitung dosis (terutama dosis maksimum) pada resep obat puyer dan larutan untuk anak-anak

Metoda : ceramah, diskusi/tanya jawab
Waktu : 120 menit









DOSIS OBAT

Definisi Dosis obat
Dosis obat yaitu jumlah obat yg diberikan kepada penderita dalam satuan berat  (gram, miligram, mikrogram) atau satuan isi (mililiter, liter) atau unit-unit lainnya (unit internasianal). Kecuali dinyatakan lain, dosis obat yaitu sejumlah obat yang memberikan efek terapeutik pada penderita dewasa (isebut juga dosis lazim atau dosis terapeutik). 
Bila dosis obat yang diberikan melebihi dosis terapetik dinyatakan sebagai dosis toksik, dosis toksik yang dapat menimbulkan kematian disebut dosis letal.
Dosis maksimum yaitu dosis tertinggi yang relatif masih aman diberikan kepada penderita.

Faktor-faktor yang mempengaruhi dosis
1.      Umur
Umur pasien merupakan suatu pertimbangan yang penting untuk menentukan dosis obat, khususnya anak-anak dan orang lanjut usia (>65 tahun).
     Anak-anak
Anak-anak bukan dewasa kecil dimana adanya perbedaan dalam kemampuan farmakokinetik dan farmakodinamik obat, sehingga harus diperhitungkan dosis obat yang diberikan. Factor-faktor yang harus diperhatikan : total body water, protein plasma, fungsi ginjal dan hati. Sebagai contoh chloramfenikol dimetabolisme oleh enzim glukoronidase yang ada di hati dimana pada bayi enzim tersebut belum lengkap sehingga timbul akumulasi khloramfenikol menimbulkan grey sindrom
Usia lanjut
Pada orang usia lanjut kebanyakan fungsi fisiologisnya mulai berkurang seperti proses metaboliknya lebih lambat, laju filtrasi glomerulus berkurang, kepekaan/respon reseptor (factor farmakodinamik) terhadap obat berubah, kesalahan minum obat lebih kurang 60 % karena penglihatan, pendengaran telah berkurang dan pelupa, efek samping obat 2-3 kali lebih banyak dari dewasa, maka dosis obat perlu diturunkan.
2.      Berat badan
Pasien obesitas mempunyai akumulasi jaringan lemak yang lebih besar, dimana jaringan lemak mempunyai proporsi air yang lebih kecil dibandingkan dengan jaringan otot. Jadi pasien obese mempunyai proporsi cairan tubuh terhadap berat badan yang lebih kecil daripada pasien dengan berat badan normal, sehingga mempengaruhi volume distribusi obat..
3.      Jenis kelamin
Wanita dianggap lebih sensitive terhadap pengaruh obat dibandingkan pria. Pemberian obat pada wanita hamil juga harus mempertimbangkan terdistribusinya obat ke janin seperti pada obat-obat anestesi, antibiotic, barbiturate, narkotik, dan sebagainya yang dapat menyebabkan kematian janin atau kerusakan kongenital
4.      Status patologi
Kondisi patologi seperti pasien dengan fungsi ginjal & hati yang rusak/ terganggu akan menyebabkan proses metabolisme obat yang tidak sempurna. Sebagai contoh pemberian tetrasiklin pada keadaan ginjal/hati rusak akan menyebabkan terakumulasinya tetrasiklin dan terjadi kerusakan hati. Maka harus dipertimbangkan dosis obat yang lebih rendah dan frekuensi obat diperpanjang
5.      Toleransi
Efek toleransi obat yaitu obat yang dosisnya harus diperbesar untuk menjaga respon terapi tertentu. Toleransi ini biasanya terjadi pada pemakaian obat-obatan seperti antihistamin, barbiturate & anagetik narkotik
6.      Bentuk sediaan dan cara pemakaian
Dosis obat dapat berbeda-beda tergantung pada bentuk sediaan yang digunakan dan cara pemakaian. Hal ini disebabkan oleh perbedaan kecepatan dan luasnya absorpsi obat. Seperti bentuk sediaan tablet memerlukan proses desintegrasi dan disolusi lebih dahulu sebelum diabsorpsi sehingga dosisnya lebih besar dibandingkan bentuk sediaan larutan. Cara pemberian obat juga akan mempengaruhi proses farmakokinetik.
7.      Waktu pemakaian
Waktu ketika obat itu dipakai kadang-kadang mempengaruhi dosisnya. Hal ini terutama pada pemberian obat melalui oral dalam hubungannya dengan kemampuan absorpsi obat oleh saluran cerna dengan adanya makanan. Ada beberapa obat yang efektif bila dipakai sebelum makan atau sesudah makan. Untuk obat-obat yang mengiritasi lambung & saluran cerna lebih baik dipakai segera sesudah makan.


8.      Pemakaian bersama obat lain (interaksi obat)
Obat-obat yang diberikan secara bersamaan akan terjadi interaksi obat secara fisika dan kimiawi yang dapat berupa efek yang diinginkan atau efek yang menganggu. Missal interaksi tetrasiklin dengan logam-logam kalsium, magnesium & aluminium (logam ini terdapat pada antasida atau produk susu keju), pemakaian secara bersamaan harus dihindari atau dengan cara mengatur jadwal pemberian, karena tetrasiklin membentuk kompleks dengan logam tersebut yang sukar diabsorpsi oleh saluran cerna

Rumus perhitungan dosis anak
1.      Menurut perbandingan umur orang dws
a.       Rumus Young : untuk anak kurang dari 8 tahun
Da =       n         x   Dd
                        n + 12

b.      Rumus Dilling : utk anak lebih dari 8 tahun
Da =    n    x    Dd
                       20
c.       Rumus fried : untuk bayi (0-12 bln)
Da =    m    x   Dd
                       150

2.      Menurut perbandingan berat badan orang dewasa  (70 kg) :
Rumus Clark
Da =  W anak    x Dd             atau     Da =     W   x  Dd
                     W dewasa                                               70      

3.      Menurut perbandingan luas permukaan tubuh orang dewasa (1,73 m2)
Rumus Crawford-Terry-Rourke :
Da =    LPT anak    x  Dd
                       LPT dewasa

Menghitung dosis individual anak
  1. Sesuai dengan berat badan anak dalam kg
  2. Sesuai dengan LPT anak dalam m2 (LPT anak dapat diperhitungkan dari tinggi dan berat badan anak menurut rumus Du Bois atau dapat dilihat dari nomogram DuBois

Contoh resep dan perhitungan dosis anak
R/ Codein HCl            5 mg
    Ephedrin HCl          10 mg
    Prednison                2 mg
    Sach lactis               qs
    m.f pulv.dtd.No X
    S.t.d.d pulvI pc
 Pro : Reza (12 thn)

Diketahui DM dewasa utk Codein HCl         :  0,06 g (1 x pakai) dan 0,3 g (1hari)
                 DM dewasa utk Ephedrin HCl      :  0,05 g (1 x pakai) dan 0,15 g (1hari)
Rumus perhitungan dosis anak > 10 th           :  n /20  x DM        
maka DM  anak 12 th utk codein HCl ,  1x pakai :12/20 x 0,06  = 0,036 g
                                                                 1 hari     : 12/20 x 0,3  = 0,18g      
                                       ephedrine HCl, 1x pakai  : 12/20 x 0,05 = 0,03 g
                                                                 1 hari      : 12/20 x 0,15 = 0,09 g
pada resep, dosis Codein HCl 1x pakai = 5 mg = 0,005 g 
                                                1 hari = 3x5mg = 15 mg = 0,015 g
maka persentase DM 1x pakai : 0,005/ 0,036 x 100 % = 13,88 %
                                    1 hari    : 0,015 /0,18 x 100 % = 8,33 %
berarti dosis codein tdk melewati DM (< 100 %)
dari resep, dosis ephedrin HCl 1x pakai = 10 mg = 0,01 g 
                                                1 hari = 3x10mg = 30 mg = 0,03 g
maka persentase DM 1x pakai : 0,01/ 0,03 x 100 % = 33,33 %
                                    1 hari    : 0,03 /0,09 x 100 % = 33,33 %
berarti dosis ephedrin tdk melewati DM (< 100 %)

Contoh perhitungan dosis maksimum untuk obat minum
R/        Paracetamol     0,125 g/dosis
            Coffein            0,2
            m.f elixir          60
            S.3.d.d CthI
            Pro : Anto (10 thn)

Cara I: Jumlah sendok = 60 ml / 5 ml = 12 sendok teh
            Dosis per sendok coffein = 200 mg / 12 sendok = 16,67 mg / sendok
            DM Coffein dws =  0,5 g (1xpakai) dan 1,5 g (1 hari)
            DM Cofeein utk anak 10 thn :
                                    1xp : 10/20 x 0,5 g = 0,25 g = 250 mg
                                    1 h : 10/20 x 1,5 g = 0,75 g = 750 mg
            maka persentase DM :1xp = 16,67 mg / 250 mg x 100 % = 6,67 %
                                       1 h = 3 x 16,67 mg / 750 mg x 100 % = 6,67 %

Cara II :   Dosis 1x p coffein : 5 ml / 60 ml  x 0,2 g = 0,017 g
                Dosis 1 hari coffein:  3 x 5 ml / 60 ml x 0,2 g = 0,05 g
                DM Cofeein utk anak 10 thn :
                                    1xp : 10/20 x 0,5 g = 0,25 g
                                    1 h : 10/20 x 1,5 g = 0,75 g
            maka persentase DM :1xp = 0,017 g / 0,25 g x 100 % = 6,67 %
                                                 1 h =  0,05 g / 0,75 g x 100 % = 6,67 %

Kesimpulan
1.      Faktor-faktor yang mempengaruhi dosis yaitu umur, berat badan, jenis kelamin, status patologi, cara pemakaian, bentuk sediaan dan interaksi obat.
2.      Dosis untuk anak-anak harus diperhitungkan sesuai dengan berat badan atau luas permukaan tubuh

Evaluasi
Hitunglah dosis maksimum  pada resep-resep dibawah ini :
1. R/    Paracetamol     0,2
            Coffein            0,05
            CTM                0,002
            m.f. pulv d.t.d no.X
            S.t.d.d.pulvI
            Pro : Dian ( 8 tahun)

2. R/    Atropin sulfas             0,5 mg
            Extrac Belladonae       15 mg
            Lactosa                        qs
            m.f pulv. da in cap d.t.d no.X
            S.t.d.d CapI
            Pro : Tn. Anton

3.      R/  Diphenhydramin HCl  1,5 mg/ 5 ml
Ammonium chloride   0,25
Natrii citras                 0,1
Sir. Simpl                    10 %
m.f elixir          100
S.3.d.d CI                              
Pro : Tiara (6 thn)












POKOK BAHASAN  V
Topik : PULVIS DAN PULVERES

Tujuan instruksional umum :
Mahasiswa mampu menjelaskan aturan pembuatan pulvis (serbuk tabur) & pulveres (serbuk bagi)
Tujuan instruksional khusus :
·         Mampu menjelaskan aturan pembuatan pulvis (serbuk tabur) & pulveres (serbuk bagi) secara umum dan pengerjaan khusus zat-zat tertentu
·         Mampu mengerjakan resep-resep pulvis dan pulveres
·         Mampu mengerjakan perhitungan dosis, penimbangan, pencampuran dan pengemasan pulvis dan pulveres

Metoda : ceramah, diskusi/tanya jawab
Waktu : 200 menit








V. PULVIS  DAN  PULVERES

A. PULVIS ( =SERBUK)
Definisi Pulvis
Serbuk (pulvis) adalah campuran homogen dua atau lebih obat yang diserbukkan, dan berada dalam keadaan relative kering. Menurut Farmakope Indonesia edisi III, pengertian umum pulvis (serbuk) adalah campuran homogen dua atau lebih obat yang diserbukan kecuali dinyatakan lain yang dimaksud serbuk adalah untuk pemakaian dalam.
Derajat halus serbuk
Derajat halus serbuk dinyatakan dengan satu  atau dua nomor pengayak. Jika
dinyatakan dengan satu nomor berarti semua serbuk dapat melalui pengayak dengan nomor tersebut. Jika dinyatakan dengan 2 nomor berarti semua serbuk dapat melalui pengayak dengan nomor terendah dan tidak lebih dari 40 % melalui pengayak dengan nomor tertinggi. Misal serbuk 22/60 berarti serbuk dapat melewati pengayak no 22 seluruhnya dan tidak lebih dari 40 % melewati pengayak nomor 60. Nomor pengayak menunjukan jumlah lubang tiap 2,54 cm dihitung searah dengan panjang kawat.
Macam-macam pulvis
a.      Pulvis adspersorius ( serbuk tabur )
Yaitu serbuk ringan bebas dari butiran kasar dan dimaksudkan untuk obat luar, dapat dikemas dalam wadah yang bagian atasnya berlubang halus untuk memudahkan penggunaan pada kulit. Pada umumnya serbuk tabur harus melewati ayakan dengan derajat halus 100 mesh.
Talk, Kaolin dan bahan mineral lainnya yang digunakan untuk serbuk tabur harus memenuhi syarat bebas dari bakteri Clostridium tetani dan Clostridium Welchii dan Bacillus anthracis. Cara sterilisasinya ialah dengan cara pemanasan kering pada suhu 1500 selama 1 jam. Serbuk tabur tidak boleh digunakan untuk luka terbuka.
Cara pembuatan serbuk tabur yang mengandung :
  1. Adeps Lanae, Vaselinum, Plumbi Oxydi Emplastrum ialah dengan melarutkan zat tersebut dalam Aether atau aceton, lalu ditambahkan sebagian talk diaduk sampai Aether atau Aceton menguap, setelah itu ditambah bahan lainnya.
  2. Paraffin liquidum dan Oleum Ricini dicampur dulu dengan sama banyaknya talk lalu ditambahkan sedikit demi sedikit dan aduk, sambil yang melekat pada dinding mortir dilepas dengan spatel atau kertas film dan diaduk
  3. Ichtyol diencerkan dulu dengan Aether cum Spiritu lalu dikeringkan dengan talk, yaitu sambil diauk dibiarkan Aether cum Spritunya menguap lalu ditambahkan sisal talk dan serbuk lainnya, sambil yang melekat pada dinding mortir dilepas dengan spatel atau dengan kertas film.
  4. Minyak-minyak eteris dan Formaldehyde Solutio dicampur teakhir dengan cara memasukkan zat tersebut dalam mortir lalu ditambahkan campuran serbuk yang telah diayaki sedikit demi sedikit.



Aturan pembutan serbuk tabur
·         Serbuk tabur tanpa mengandung zat lemak diayak dengan pengayak no. 100.
·         Serbuk tabur mengandung zat berlemak diayak dengan pengayak no. 44
·         Seluruh serbuk harus terayak semuanya, yang tertinggal diayakan dihaluskan lagi sampai semuanya terayak.

b.      Pulvis dentrificus
Yaitu serbuk gigi, biasanya menggunakan carmine sebagai pewarna yang dilarutkan terlebih dulu dalam etanol 90 %/ chloroform
c.       Pulvis effervescent
Merupakan serbuk biasa yang sebelum ditelan dilarutkan terlebih dahulu dalam air dingin ataupun air hangat, membentuk larutan yang pada umumnya jernih. Serbuk ini merupakan campuran antara senyawa asam (asam sitrat atau asam tartat) dengan senyawa basa (natrium karbonat). Interaksi asam basa ini dalam air akan menimbulkan reaksi yang menghasilkan gas karbondioksida (CO2)

Contoh resep pulvis
R/        Campora                   0.2
            Acid salisil                 1
            Bolus alba                 7
            ZnO                           1
            Ol.Rosarum    gtt       2
            m.d.s. pulv. Adsper


R/        Acidum Boricum                    1           
            Bals. Peru                                1                             
            Adeps lanae                            2                
            MgO                                        2                            
            ZnO                                         2                             
            Talkum ad                               15

  1. PULVERES (= SERBUK BAGI)
Serbuk bagi (pulveres) adalah serbuk yang dibagi dalam bobot yang lebih kurang sama, dibungkus dengan kertas perkamen atau bahan pengemas yang lain yang cocok. Bagi serbuk yang mengndung zat yang higroskopis serbuk dibungkus dalam kertas berlilin dan diserahkan dalam pot dengan tutup sekrup. Pada serbuk yang mengandung minyak esteris tidak digunakan kertas paraffin, sebab minyak esterisnya akan diserap, tetapi dengan kertas perkamen kemudian dilapis lagi dengan kertas logam (kertas perak).

Bila dokter menulis serbuk bagi, dapat ditulis dengan cara, yaitu:
1. Ditulis jumlah obat untuk seluruh serbuk lalu dibagi menjadi beberapa bungkus:
      R/        Acidi Acetylosalicylici  10
                  m.f.pulv.divide in partes aequalis no.XX
                  Ket: ditimbang 10 g asetosal, digerus, lalu dibagi menjadi 20 serbuk
2.      Ditulis jumlah untuk setiap bungkus serbuknya dan untuk beberapa bungkus:
      R/        Acidi Acetylosalicylici. 0,5
                  m.f.pulv, dtd.no.20
                  Ket: ditimbang 20x0,5 g asetosal, digerus, lalu dibagi 20
Supaya dapat terbagi tepat campuran serbuk ditambahkan zat tambahan yang berkhasiat netral atau indiferen, misalnya Saccharum Lactis, Saccharum album, sampai berat serbuk tiap bungkusnya 500 mg.
Serbuk yang harus dibagi tanpa penimbangan untuk menjamin pembagian yang sama maka pembagian dilakukan paling banyak hanya 20 bungkus . Penyimpangan berat masing-masing serbuk terhadap yang lain adalah paling besar 10%.
Keseragaman bobot dilakukan sebagai berikut:
Timbang isi dari 20 bungkus satu persatu, Campur isi kedua puluh bungkus tadi timbang sekaligus dan Hitung bobot rata-rata. Penyimpangan antara penimbangan, satu persatu terhadap bobot isi rata-rata tidak lebih dari 15% dari tiap 2 bungkus dan tidak lebih dari 10% untuk tiap 18 bungkus yang lain.

CARA PEMBUATAN SERBUK SECARA UMUM
·         Serbuk diracik dengan cara mencampur satu persatu, sedikit demi sedikit dan dimulai dari bahan yang jumlahnya sedikit kemudian diayak, biasanya menggunakan pengayak nomor 60 dan dicampur lagi.
·         Pada pembuatan serbuk kasar, terutama simplisia nabati, digerus lebih dahulu sampai derajat halus tertentu setelah dikeringkan pada suhu tidak lebih dari 50 C.
·         Serbuk obat yang mengandung bagian yang mudah menguap, dikeringkan dengan pertolongan kapur tohor atau bahan lain yang cocok, setelah itu diserbuk dengan jalan digiling, ditumbuk dan digerus sampai diperoleh serbuk yang mempunyai derajat halus sesuai yang tertera pada pengayak
Hal –hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan serbuk  :
1.      Jangan mencampur obat berkhasiat keras dalam mortir dalam keadaan tidak diencerkan agar mencegah sebagian obat tertinggal dalam pori-pori dinding.
      Caranya :Pilih mortir yang halus, masukkan dulu kira-kira sama bagian serbuk yang lain, digerus sendirian, baru dimasukkan dan digerus bersama obat yang berkhasiat keras. Kemudian masukkan serbuk lain sedikit demi sedikit sambil diaduk dan digerus.Sebaiknya gunakan bagian serbuk lain yang berwarna beda dan kontras dengan warna obat berkhasiat keras tersebut. Bila semua serbuk berwarna putih, berilah zat warna (biasanya Carmin).
2.      Bila bagian serbuk mempunyai BJ yang berlainan, masukkan dulu serbuk yang BJ-nya besar baru kemudian masukkan bagian serbuk yang BJ-nya lebih rendah dan diaduk.
Contoh Resep:
R/  Magnesii Oxydi                      5
            Bismuth.Subcarbonas             5
            Saccharum Lactis                    5
            m.f.pulv.
            S.t.d.d.cp.
            Masukkan Bismuth Subcarbonas dulu dalam martir, digerus sambil diaduk, ditambah Magnesii Oxydi sedikit demi sedikit lalu Saccharum Lactis. Magnesii Oxydi adalah serbuk yang sangat ringan.
3.      Jangan mengerus bahan-bahan serbuk dalam jumlah banyak sekaligus agar serbuk benar-benar halus.
a.       Dengan mengerus, akan banyak terjadi kristal kasar menjadi halus.
b.      Bila mengerus serbuk secara banyak, akan terjadi serbuk halus yang banyak pula, tetapi ada bagian-bagian kasar yang terlepas dan tidak ikut tergerus dengan baik.
c.       Maka lebih baik bagian-bagian serbuk digerus masing-masing dalam mortir sampai halus baru di campur
4.      Dalam membuat serbuk sebaiknya bahan-bahan baku serbuk kering dan menggunakan mortir panas. Hal ini khusus untuk mengerus Kalii Bromidum, Natrii Chloridum dan sebagainya.
Cara memanaskan mortir sbb:
         Tuangi mortir dan stamper dengan air panas
         Biarkan beberapa menit sampai dinding luar mortir terasa panas
         air panas dituang keluar
         Keringkan dengan serbet bersih
Jangan menggunakan mortir panas untuk bahan yang mudah menguap atau rusak pada saat pemanasan seperti Ammonii Carbonas, Salol, Natrii Bicarbonas, Ammonii Chloridum dan Peroksida (magnesii Peroxydi)
Contoh resep:
R/  Kalii Bromid.                          0,250
            Ephedrini HCL                       0,050
            Luminal                                   0,030
            m.f pulv dtd No X
            s.t dd pulv 1



5.      Cara Mencampur Champora
Larutkan camphora dengan Spiritus fortior dalam mortir sampai cukup larut, jangan berlebihan, setelah itu diaduk dengan bahan lain (Saccharum Lactis) sampai Spiritus fortiornya menguap.
Yang harus diperhatikan antara lain :
         Air panas dituPada waktu mengaduk jangan ditekan untuk menghindari Camphora menggumpal kembali.
         Pada pembautan serbuk Camphora untuk pemakaian luar dapat digunakan eter sebagai pengganti Spiritus fortior.
         Cara ini juga dapat dilakukan untuk pembuatan Naphtholum
Contoh Resep:     
R/  Camphora                    3
            Acetosal                      5
            Phenacetin                   1
            Coffeini                       0,5
            m.f.pulv.No.X
            S.t.d.d.p.l
6.      Cara Mencampur Stibii Pentasulfidum
·         Masukkan serbuk lain dalam mortir, mis: Saccharum Lactis
·         Masukkan serbuk Stibii Pentasulfidum dan tambahkan Saccharum Lactis sisanya / serbuk lain
·         Diaduk dan digerus tanpa ditekan
·         Dikerjakan demikian untuk menghindari serbuk Stibii Pentasulfidum melekat dan memberi warna merah pada dinding atau dasar mortir.
·         Pencampuran ini dalam waktu cukup hingga di dapat serbuk homogen
Contoh Resep:  
R/   Codeini Hydrochloridi
            Stibii Pentasulfidi
            Extract.Hyoscyami
            Sacch.Lactis   
            m.f.d.t.d.No.XII
            S.t.d.d.p.l
7.      Serbuk Dengan Ekstrak Kental
Encerkan dalam mortir panas dengan cairan penyari, mis. Spiritus dilutus atau spiritus lainnya secukupnya dan diserbukkan dengan pertolongan zat tambahan yang cocok, misalkan Saccharum Lactis atau Amylum Oryzae.
Contoh Resep:  
R/  Extrac.Belladon.spiss              0,020
            Luminal                                   0,020
            Papaverin.HCL                       0,030  
            m.f.pulv.d.t.d.No.XII            
            S,3.d.d.p.l
Macam cairan untuk mengencerkan ekstrak kental:
Etanol encer (70%): Extractum Belladonnae (F.I), ExtractumHyoscyami (F.I), Extractum Valerianae, Etanol 90%:  Extractum Cannabis Indicae.

Cara memanaskan mortir
  1. Mortir dan stamper yang digunakan dituangi dengan air panas sampai dinding mortir luar terasa panas
  2. Air dibuang dikeringkan dengan serbet
  3. Campuran ekstrak dan serbuk yang masih basah dimasukkan, diaduk dan yang melekat pada dinding mortir dilepas dengan stapel sampai serbuk kering dan homogen
  4. Bila mortir sudah dingin baru ditambahkan serbuk-serbuk yang lain agar serbuk yang tidak tahan panas tidak rusak.
  5. Biasanya digunakan Saccharum album, Kalii Sulfas, Calcii Carbonas, Amylum, dll. Banyaknya Saccharum Lactis yang digunakan 5-10X Extractum spissum

8.      Serbuk Dengan Tinctura atau Extractum Liquidum
a.       Tinctura atau Extractum liquidum diuapkan dengan pelarutnya di atas tangas air hingga hampir kering
b.      Lalu diserbukkan dengan pertolongan bahan tambahan yang cocok
c.       Biasanya digunakan Saccharum Lactis untuk obat dalam
d.      Supaya serbuk yang dipakai pengeringan tidak menjadi keras, maka masa selalu dilepas dengan stapel dari dinding mortir.
e.       Bila kandungan zat berkhasiat tidak mudah menguap atau rusak dan jumlahnya kecil, maka digunakan mortir panas dan dikeringkan dengan penambahan Saccharum Lactis.
f.       Bila jumlah ekstrak cair atau tingtur banyak, maka diuapkan dulu di atas tangas air, diaduk
g.      Bila cairan tinggal sedikit ditambahkan Saccharum Lactis dan masa selalu dilepas dengan spatel agar serbuk pengering tidak melekat pada dinding mortir.
Tinctura yang sering dibuat dengan cara tersebut adalah Ratanhiae Tinctura, Opii Tinctura,Gentianae Tinctura, Strophanti Tinctura.
Isi Tinctur diketahui secara kualitatif dan kuantitatif, tingtur tidak dapat diganti dengan isi zat berkhasiatnya saja
Contoh resep:
R/  Digitalis Tinctur          1,5
            Diuretini                      3                     
            Coffeini                       0,45    
            m.f.pulv.No.XV                     
            S.m.et vesp.p
9.      Gula Berminyak
Gula berminyak = Eleosacchara adalah campuran 2 gram Saccharum Lactis dengan 1 tetes minyak eteris, mis. Oleum Anisi, Oleum Foeniculi, Oleum Menthae Piperitae. Gula berminyak tidak boleh disimpan sebagai persediaan, dan dikemas dalam kertas perkamen, jangan dgn kertas parafis, sebab minyak eterisnya akan diserap. Gula berminyak harus dibuat dengan tetes minyak eteris penuh tidak pecahan, bila dalam hitungan diperoleh pecahan, dibuat dengan bilangan tetes penuh, sisa gul a berminyak  disisihkan (disimpan).

10.  Campuran serbuk yang menjadi Basah atau Mencair
Arti basah di sini ialah menyerap air atau keluar air kristalnya, menyerap disini disebabkan oleh karena campuran serbuk itu lebih higroskopis dari masing-masing serbuk / kristal. Selain tersebut campuran serbuk dapat menyebabkan turunnya titik lebur campuran serbuk tersebut dibanding titik lebur masing-masing serbuk.
Kelarutanya air kristal dapat membentuk:
a.       Senyawa garam rangkap yang mengandung air kristal lebih sedikit dibanding dengan jumlah air kristal masing-masing zat.
b.      Terjadinya senyawa baru dengan air kristal yang lebih sedikit
c.       Penurunan tekanan uap relative

Evaluasi
Kerjakan resep-resep dibawah ini :
1.   R/  Paracetamol     0,2                                          
            Coffein            0,05
            CTM                0,002
            Lactosa            q.s
            m.f. pulv. d.t.d no X
            S.t.d.d pulv I  p.c
            Pro : Tina ( 6 thn)                               

2.   R/  Opii tinct                     10
            Extrac belladonna       0,1
            Papaverin HCl             0,3
            Calcium carbonat          4       
            m.f. pulv No.XV
            S.t.d.d p I

3.  R/   Acid salicil                   2
            ZnO                             5
            Talkum                        20
            m.d.s.pulv.adsper.
            S.U.E 

POKOK BAHASAN VI

TOPIK :  KAPSUL

Tujuan instruksional umum :
            Mahasiswa mampu menjelaskan aturan pembuatan kapsul
Tujuan instruksional khusus :
  • Mengetahui jenis-jenis kapsul
  • Menjelaskan aturan / cara pembuatan kapsul, zat-zat yang merusak cangkang kapsul
Metoda : ceramah, diskusi/tanya jawab
Waktu : 120 menit












KAPSUL

Kapsul adalah bentuk sediaan obat yang terbungkus cangkang kapsul keras atau lunak, cangkang umumnya terbuat dari gelatin dengan atau tanpa zat tambahan
Keuntungan memberikan obat dalam kapsul:
Ø  Kapsul dapat menutupi rasa obat yang tidak enak, pahit atau amis
Ø  Kapsul lebih lemas dari tablet sehingga bagi banyak penderita kapsul lebih mudah ditelan
Ø  Kapsul dapat pula dilapisi dengan bahan tertentu sehingga tidak pecah atau larut dalam lambung dan baru membebaskan bahan obatnya kalau sampai di usus halus
Ø  Dapat melindungi bahan obat yang rusak karena pengaruh cahaya/udara

Ada 2 macam kapsul :
1.      Kapsul keras ( capsul gelatinosae operculate)
·         Kapsul keras terdiri dari wadah dan tutup, umumnya berisikan bahan obat yang kering.
·         Cangkang kapsul dibuat dari campuran gelatin, gula dan air dan merupakan cangkang kapsul yang bening, tidak berwarna dan tidak berasa
·         Kapsul dapat diberi warna macam-macam agar menarik dan dapat dibedakan dengan kapsul yang mengandung obat yang lain.
·         Ukuran kapsul keras menurut besarnya dapat diberi nomor urut dari besar ke yang kecil sebagai berikut : No. 000; 00; 0; 1; 2; 3.

2.      Kapsul lunak (soft capsul) :
·         Merupakan kapsul yang tertutup dan berisi obat yang pembuatan dan pengisian obatnya dilakukan dengan alat khusus
·         Umumnya berisikan bahan obat berupa minyak atau larutan obat dalam minyak, misal minyak levertran, vitamin A,D,E,K
·         Cangkang kapsul lunak dibuat dari gelatin ditambah gliserin atau alcohol polihidris seperti sorbitol untuk melunakan gelatinnya.
·         Kapsul lunak juga dapat diberi warna macam-macam

Persyaratan kapsul :
-          keseragaman bobot (bervariasi antara 7,5 -20 %)
-          keseragaman isi zat berkhasiat
-          waktu hancur, tidak boleh lebih dari 15 menit
-          disimpan dalam wadah tertutup rapat, sebaiknya diberi zat pengering

Bahan obat yang merusak cangkang kapsul
-          cairan berair, missal larutan gliserin, icthiol, dimasukan kedalam kapsul setelah dibuat masa pil
-          cairan yang mengandung alcohol
-          senyawa fenol atau sediaan yang tinggi kadar fenolnya seperti kreosot, dimasukan kedalam kapsul setelah dicampur/diencerkan dengan minyak lemak/minyak menguap
-          minyak lemak, minyak menguap dan bahan bahan yang mudah menguap tidak merusak kapsul gelatin


Evaluasi
  1. Jelaskan perbedaan kapsul lunak dan kapsul keras !
  2. Sebutkan senyawa-senyawa yang dapat merusak cangkang kapsul !
















POKOK BAHASAN  VII
TOPIK : SALEP / UNGUENTUM

Tujuan instruksional umum :
Mahasiswa mampu menjelaskan aturan / cara pembuatan salep
Tujuan instruksional khusus :
  • Mengetahui jenis-jenis dasar salep dan contoh-contohnya
  • Menjelaskan aturan  pembuatan salep secara umum dan cara pembuatan salep yang mengandung zat-zat khusus
  • Mampu mengerjakan resep-resep salep/pasta

Metoda : ceramah, diskusi/tanya jawab
Waktu : 120 menit











SALEP / UNGUENTUM

Definisi salep
Salep adalah Sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obatnya harus larut/ terdispersi homogen dalam dasar salep (vehikulum) yang cocok
Prinsip Obat bentuk sediaan setengah padat : beberapa campuran dalam berbagai perbandingan lemak/minyak dengan dasar salep dan bahan padat  dengan atau tanpa tambahan air

Bahan Dasar Salep
Berdasarkan komposisi dasar salep dapat dibagi:
1.      Dasar salep hidrokarbon
   Vaselin putih , vaselin kuning, paraffin encer, paraffin padat dan minyak tumbuh-    tumbuhan
2.      Dasar salep serap
      Adeps lanae, lanolin, unguentum simplex (malam kuning : oleum sesami = 30:70)
3.      Dasar salep dapat larut dalam air
      PEG (polyethyleneglycol)  atau campuran PEG, Tragacant ,  PGA
4.      Dasar salep dapat dicuci dengan air
      Dasar salep emulsi tipe M/A seperti, vanishing cream
      Emulsifying oinment B.P
           R/ emulsifying wax      300
               vaselin album                       500
               parafin liquid                        200
emulsifying wax :
            R/ cetostearyl alcohol    9
                 Na. lauril sulfat      10
                 Aquadest               4 ml     

Aturan Pembuatan Salep
Aturan umum :
1.      Zat yang dapat larut dalam dasar salep, dilarutkan, bila perlu dengan pemanasan rendah
2.      Zat yang tidak cukup larut dalam dasar salep, lebih dulu diserbuk dan diayak ( ayakan no 100)
3.      Zat yang mudah larut dalam air dan stabil, dilarutkan dulu dalam air yang tersedia kemudian tambah dasar salep lain
4.      Bila dasar salep dibuat dengan peleburan, maka campuran tersebut harus diaduk sampai dingin

Cara Pembuatan Salep
1.      Zat/ Bahan padat larut dalam dasar salep
a.       Camphora, mentol, naftol, fenol, guaicol, thymol.
Dilarutkan dalam dasar salep yang sudah dicairkan dlm botol kaca.
Bila ada minyak lemak (oleum sesami) maka camphora dilarutkan dalam minyak tersebut.
Bila terdapat bersama mentol, salol, thymol yang dapat menurunkan titik leburnya, maka camphora dicampur dan digerus dengan zat-zat tersebut  sampai mencair, kemudian ditambahkan  bahan dasar salep sedikit-sedikit.
Camphora ditambah spiritus fort, kemudian digerus dengan bahan dasar
b.      Pellidol
Dilarutkan bersama-sama bahan dasar yang dicairkan/dilebur (larut 3 % dalam vaselin dan 7% dalam             minyak lemak)
            Bila jumlahnya besar, dilarutkan dalam dasar salep yang sudah dicairkan
c.       Iodium
            Ditambah spir. Fortior (etanol 95 %) , digerus dengan  bahan dasar salep.
Ditambah KI + air, seperti pembuatan Ung.Iodii (jumlah air yang ditambahkan dikurangkan pada bagian dasar salep)
           
2.      Bahan padat larut dalam air
a.       Argentum colloidal (colargol)
            Digerus lama dengan air sama banyak sampai larut
b.      Argentum proteinicum (protargol)
Ditaburkan di atas air sama banyak, biarkan 30 menit, kemudian gerus dengan dasar salep. Bila ada glycerin, protargol dapat digerus langsung
c.       Tannin
Bila air yg tersedia tidak cukup , hanya diserbuk dan digerus dengan dasar salep
d.      Ekstrak kental
Digerus dulu dengan sedikit air, seperti  Belladonae extractum, Hhyoscyami extractum.
Bila dalam resep ada glycerin, dapat dipakai untuk menggerus ekstrak
e.       Ratanhiae extractum
Ditabur dulu dengan air sama banyak, biarkan 15 menit, baru digerus dan diaduk
f.  Adanya iodium / tanin dengan garam alkaloida    di dalam larutan atau mengendapkan alkaloid, maka kedua zat terebut harus dipisah dan dicampur sendiri-sendiri dengan sebagian dasar salep, kemudian keduanya baru dicampur.

3.      Bahan padat tidak larut lemak dan air
Contoh : zinci oxydum, acidum boricum
zat tersebut diserbukkan  dulu dengan pengayak no 100, kemudian diaduk dengan bahan dasar sampai homogen

4.      Bahan obat yg dimasukan terakhir
a.       Ichtyol, jika digerus lama akan terjadi pemisahan
b.      Balsam (peru balsem) dan minyak atsiri/ minyak mudah menguap
c.       Air, agar permukaan mortir tidak licin
d.      Glycerin, sukar diserap oleh bahan dasar
e.       LCD (liquor carbonatis detergent)
f.       Bahan obat bentuk cair

Bahan dasar berbentuk ½ padat
Vaselin, adeps lanae atau lanolin
Dengan mencampur langsung bahan obat dengan bahan dasar, diaduk sampai homogen
Bahan dasar berbentuk padat
Cera flava/alba, paraffin solid, carbowax, asam stearat, setil alkohol
Bahan dasar tersebut harus dilebur dulu bersama dengan bahan dasar yang berbentuk cair atau ½ padat, setelah meleleh diaduk samapai dingin.
Jika bahan yang dilebur kurang bersih, dapat disaring dengang kasa (bahan tersebut dilebihkan 10-20 %)

Pembuatan salep dg bhn khusus
1.      Oleum cacao
Jika > 10% : dilelehkan tapi sebelum mencair turunkan dari water bath, + minyak /masa salep,  digerus homogen
Jika < 10 % : dibuat seperti apad pembuatan salep dengan peleburan
2.      Balsanum peruvianum
Jangan ikut dipanasi, tambahkan pada masa salep yang telah dingin dan dicampur terakhir
3.                                                            Bahan obat dalam salep yang tidak boleh dilarutkan :
Phenol, zinci sulfas, oleum lecoris aselli (minyak ikan), antibiotik (ex. penisilin)

Ditinjau dari kegunaan dalam terapi, salep dikelompokkan  :
1.      Salep epidermis
            Untuk melindungi kulit/mengobati epithelium, dengan vehikulum : vaselin/ campuran hidrokarbon
2.      Salep mukosa/diadermik
            Melindungi/mengobati mukosa, dengan vehikulum : campuran vaselin 10-20%, adeps lanae
3.      Salep endodermik
penetrasi lebih dalam dari permukaan kulit dengan vehikulum : beberapa lemak/ campuran beberapa bahan yang mi\rip dengan lemak kulit manusia

Contoh Salep epidermik
R/        acid salicyl      0,6
                        sulfur pp          1,2
                        vas flav  ad      30
                        s.us.ext
Salep u/ mukosa
R/        benzocain        0,1
                        tanin                3
                        adeps lanae      10       
                        vas flav   ad     50       
Salep endodermik
R/        menthol           10
                        methyl salicyl  10
                        adeps lanae ad 100
                        mf ungt


Persyaratan salep yang baik
1.      Stabil secara fisika dan kimia
2.      Obat harus terbagi merata, tidak boleh ada bagian partikel yang kasar
3.      Harus mudah dioleskan
4.      Basis salep tidak merangsang kulit
5.      Salep tidak boleh mengering
6.      Tidak berbau tengik

PASTA
1.   Pasta berlemak
Salep yang mengandung lebih dari 50% zat padat/serbuk, karena jumlah lemak lebih sedikit daripada serbuk, supaya homogen maka bahan dasar tersebut dilelehkan terlebih dulu. Merupakan salep yang tebal, kaku, dan tidak meleleh pada suhu badan.
Bahan dasar : vaselin, paraffin liquid
2.      Pasta kering
Pasta yang bebas lemak mengandung 60 % zat padat/serbuk seperti ZnO, talc, Ca carbonas.
Supaya tidak menjadi kering salep ditempatkan pada tempat yang kedap dan ditambahkan bentonit sebagai stabilisator
3.      Pasta pendingin
Merupakan campuran serbuk, minyak lemak dan cairan berair, dikenal dengan “salep tiga dara”

Contoh  pasta
Pasta berlemak
R/        resorcin                        5
                        sulfur                           5
                        ZnO                             40
                        paraf liq                       10
cetostearylalkohol       12
                        vas flav            ad        100



Evaluasi :
 Kerjakan resep-resep dibawah ini menurut aturan pembuatan salep & pasta :
1. R/    camphora                     1
                        ol.cocos                       1
                        adeps lanae                  18
                        m.f ungt

2.  R/   Kalii iodi                     3
                        Lanolin                        16
                        ungt.simplex ad           30
3.  R/   procain HCl                 0,1
                        Adeps lanae                3
                        Zinci oxyd                   3
                        aqua rosae                   1
                        vaselin  ad                   30
4.  R/   camphora                     1
                        vaselin flav                  9
                        S.ungt camphora


5.  R/   cocain HCl                  0,15
                        extract belladonna       0,25
                        iodi                              0,5
                        lanolin                         5
                        vaselin flav aa             10
                        s. ad us. ext    

6.  R/   resorcin                        0,6
                        sulfur pp                      2,5
                        cetaceum                     6         
                        ol. Cacao                     3
                        ol. Sesame                   25
                        sue      

8.  Unguentum acidi benzoici et acidi salicylici
     R/   acidi benzoic                 5       
                        acidi salicyl                   5
                        lanolin                         45
                        vaselin                         45
                        s.u.e








POKOK BAHASAN VIII
TOPIK  : CREAM

Tujuan instruksional umum :
Mahasiswa mampu menjelaskan aturan / cara pembuatan cream
Tujuan instruksional khusus :
  • Mengetahui jenis-jenis basis krim dan tipe krim
  • Menjelaskan aturan / cara pembuatan krim  secara umum dan khusus
  • Mengetahui emulgator yang dipakai pada krim
  • Mampu mengerjakan resep-resep cream
Metoda : ceramah, diskusi/tanya jawab
Waktu : 120 menit








VIII.  CREAM

Cream adalah sediaan ½ padat berupa emulsi kental mengandung tidak kurang dari 60% air, dimaksudkan untuk pemakaian luar
Tipe cream
1.      Cream  tipe W/O atau air dlm minyak
2.      Cream tipe O/W atau minyak dlm air
           
Untuk membuat cream digunakan zat pengemulsi/emulgator. Beberapa contoh surfaktan : Tween, span,
Na lauril sulfat
CMC
Kuning telur, gelatin
TEA stearat
Untuk penstabil ditambahkan zat antioksidan (seperti BHT, BHA) dan pengawet (seperti nipagin dan  nipasol)

Ketentuan umum cream
  1. Basis cream harus dibuat dulu, baru bahan obat dapat digerus dengan bahan obat yang sudah jadi
  2. Peraturan yang ada di unguentum tidak berlaku di cream. Jadi walaupun ada obat yang mudah larut dalam air tidak perlu dilarutkan cukup digerus halus kemudian tambahkan basis, gerus homogen.

Pembuatan basis cream
1.      Dibuat menjadi 2 fase, fase minyak (dilebur) dan fase air (dilarutkan)
2.      Bahan ½ padat  dan bahan padat (seperti lilin,  vaselin, cera, as.stearat, parafin solid, setil alkohol ) dilebur bersama-sama  di atas waterbath
3.      Bahan berbentuk cair dan berbentuk serbuk (seperti TEA, propilenglikol, nipagin) dilarutkan dalam air panas
4.      Kedua fase dicampur panas-panas dan diaduk sampai terbentuk massa cream

Contoh basis vanishing cream (type o/w)
R/        As. Stearat      142                  lebur di atas wb
                        Gliserin            100
                        borax               2,5
                        TEA                10                    + air panas ad larut   
                        Nipagin           qs
                        Aqua               750

Contoh basis cold cream  (type w/o)
R/        spermaceti       12,5
                        cera alba          12
                        paraf. Liq.       56
                        borax               0,5
                        aquadest          19 ml

OTT dalam cream
  1. Asam salisilat 1-3 %, jika > 3 % : krim a/ rusak
  2. ZnO + as salisilat dlm krim (mengandung air) akan terbentuk semen, karena air tidak bisa dihilangkan maka ZnO diganti dengan TiO2
  1. Neomisin SO4 yang bersifat asam OTT dengan basis vanishing cream (bersifat sabun), maka harus diganti dengan basis netral: Husa’s cream

Efek obat lokal pd kulit
  1. Antipruritik : mengurangi rasa gatal-gatal
Menthol                       0,25 %
Phenol                         0,5 %
Camphora                    2 %
  1. Antibakteri dan antifungi
Vioform                      3 %
Tetracyclin HCl           3 %
Chloramphenicol         2-3 %
Nystatin                      100.000 ug
  1. Keratolitik
Asam salisilat              4 - 10%
Sulfur                          4 – 10%
Resorsin                      2 - 4 %
  1. Antieksim : Hidrocortison acetat        0,5 – 1%
  2. Antiparasit : Lotio benzil benzoat       10-30 %

Evaluasi
Kerjakan resep-resep dibawah ini sesuai dengan aturan pembuatan krim !
1.  R/ betametason                              10 mg
            asam citrate                             50 mg
            dinatrii hydrogenphospat        250 mg
            chlorcresol                               10 mg
            vaselin albi                              1,5 mg
            cetostearyl alcohol                  750 mg
            paraffin liq                              600 mg
            aquadest ad                             10 mg

2. R/    emulgid           6
            ol. Arachnid    9
            cetacei             3
            sulf. Praecip    2
            nipagin                        0,3
            aqua ad            58
            S.u.e









POKOK BAHASAN  IX

TOPIK : LARUTAN- SIRUP - ELIKSIR

Tujuan instruksional umum :
Mahasiswa mampu menjelaskan aturan / cara pembuatan larutan, sirup dan eliksir
Tujuan instruksional khusus :
  • Mengetahui istilah kelarutan
  • Menjelaskan aturan / cara menimbang zat cair, melarutkan zat pada pembuatan larutan, sirup dan eliksir
  • Mengetahui prinsip dan cara meningkatkan kelarutan zat
  • Mampu mengerjakan resep-resep larutan, sirup dan eliksir
Metoda : ceramah, diskusi/tanya jawab
Waktu : 120 menit








IX. LARUTAN - SIRUP - ELIKSIR

LARUTAN/SOLUTION
Larutan adalah sediaan yang mengandung satu atau lebih zat yg dapat larut, biasanya dalam pelarut air suling
Komponen larutan terdiri dari
-          zat terlarut (solute) : dapat berupa zat padat, cair
-           pelarut (solvent) : air, aqua gliserinata, minyak
Pernyataan kelarutan zat dalam bagian tertentu pelarut adalah kelarutan pd suhu kamar (25 0C), kecuali dinyatakan lain menunjukan 1 bagian bobot zat padat/1 bagian volume zat cair larut dalam bagian volume tertentu pelarut

Istilah kelarutan
Kelarutan suatu zat yang tidak diketahui secara pasti dapat dinyatakan dengan istilah sebagai berikut :
     Istilah kelarutan                 Jumlah bagian pelarut yang diperlukan
                                    untuk melarutkan
1.      Sangat mudah larut           Kurang dari     1
2.      Mudah larut                      1       sampai    10
3.      Larut                                 10     sampai    30
4.      Agak sukar larut                30     sampai    100
5.      Sukar larut                         100   sampai    1000
6.      Sangat sukar larut             1000 sampai    10.000
7.      Praktis tdk larut                lebih dari         10.000

Kekuatan kelarutan
Jumlah zat terlarut dalam larutan dinyatakan dalam  % b/v ( jumlah 1 gram zat dalam 100 ml larutan), % v/v (jumlah 1 ml zat dalam 100 ml larutan), atau % b/b (jumlah 1 gram zat dalam 100 gram larutan)

Faktor yang mempengaruhi kelarutan
1.      Sifat fisika kimia zat terlarut dan pelarut
senyawa basa lemah tidak begitu larut dalam air tapi larut dalam larutan asam encer/pelarut organik, asam lemah lebih larut dalam alkalis.
Zat obat yang berupa asam lemah/basa lemah dibuat dalam bentuk garamnya sehungga lebih mudah larut dalam air
2.      Suhu, umumnya kenaikan suhu menyebabkan bertambahnya kelarutan suatu zat
Contoh zat-zat yang bertambah besar kelarutannya jika dipanaskan :
a.       Acidum bromicum
b.      Natrii tetraboras (borax)
c.       Calcii glukonas
Contoh zat yang berkurang kelarutannya jika dipanaskan:
d.      Calcii hidroksida, calcii hipophosfis
e.       Natrii hidroksida (NaOH)
f.       ZnCl2
3.      Cara melarutkan /pembuatan larutan
Proses pelarutan dapat dipercepat dengan cara :
·         Menaikan suhu
·         Mengurangi ukuran partikel /memperbesar luas permukaan
·         Pengadukan
·         Menambahlan bahan pembantu pelarut
Zat yang tidak boleh dipanaskan dalam proses pelarutan karena dapat terurai :
·         Luminal natrium
·         Calcii asetilsalisilas
·          veronal natrium
·         Natrii bicarbonate
4.      Penggunaan zat tambahan/pelarut campur

Cara Menimbang Zat Cair
1.      Zat cair atau cairan ditimbang dalam botol yang digunakan sebagai wadah, terlebih dahulu timbangan ditara, dapat juga ditimbang dalam cawan penguap untuk zat yang tidak menguap
2.      Jika menimbang campuran cairan caranya dengan menimbang cairan berurutan didalam botol dimulai dari cairan yang tidak mudah menguap, dan yang jumlahnya sedikit.
3.      Cairan yang mudah menguap ditimbang terakhir untuk menghindari penguapan
Contoh zatcair yang mudah menguap : eter, etil asetat, chloroform, S.A.S.A, valerianae tinctura


Cara Melarutkan Zat
1.      Zat – zat yang mudah larut, dilarutkan dalam beaker glass atau dilarutkan dalam botol, yang terlebih dahulu botolnya dikalibrasi.
2.      Zat – zat yang sukar larut dilarutkan dalam air panas atau dengan pemanasan
3.      Untuk zat yang akan terbentuk hidrat maka air dimasukan terlebih dahulu dalam erlemeyer agar tidak terbentuk hidrat yang lebih lambat larutnya.
Contoh zat tersebut : glukosa, borax, natrii bromidum
4.      Untuk zat yang mudah meleleh dalam air panas dan merupakan tetes besar dalam dasar erlemeyer atau botol dalam melarutkan dikocok untuk mempercepat larutnya.
Contoh zat : codein base, nipagin, chlorbutanol
5.      Zat – zat yang mudah terurai pada pemanasan tidak boleh dilarutkan dengan pemanasan dan dilarutkan secara dingin
Contoh : hexaminum, natrii bicarbonas, luminal natrium,calcii asetylsalicylas
6.      Zat – zat yang mudah menguap bila dipanasi dilarutkan dalam botol tertutup dan dipanaskan serendah-rendahnya sambil digoyang-goyangkan.
Contoh : camphora, thymol, acidum benzoicum, acidum salycilicum
7.      Obat keras dilarutkan tersendiri.
8.      Pemanasan hanya diperlukan untuk mempercepat larutnya suatu zat bukan untuk menambah kelarutan, sebab bila keadaan menjadi dingin akan terbentuk endapan. 

Cara Penyaringan
Cairan yang diberikan pada pasien harus jernih, bila terdapat kotoran yang tidak larut harus disaring, menggunakan kertas saring yang cocok.
Caranya :
1.      Pada corong diletakkan kertas lalu dituangkan larutan yang akan disaring. Bagian filtrat yang pertama ( kira-kira seperempatnya ) setelah dikocok dalam botol wadahnya dituangkan kembali kedalam corong tadi, hal ini untuk menyaring serabut kertas filter yang ikut dengan filtrat pertama, Setelah itu larutan semuanya disaring.
2.      Untuk menjaga jangan sampai ada zat yang terserap kertas saring sehingga mengurangi kadar obat, maka membuat larutan lebih filtrat yang pertama dibuang

SIRUP
Sirup adalah  sediaan cair berupa larutan yang mengandung sukrosa tidak kurang dari 64 % dan tidak lebih dari 66%.
Sirup berdasarkan kegunaan:
1.      Sirup bukan obat
Mengandung bahan pemberi rasa dan tidak mengandung zat obat.
Kegunaannya sebagai pembawa/korigens, untuk menutupi rasa/bau  yang tidak enak
Contoh : sirup cerri, sirupus aurantii, sirupus simplex
2.      Sirup obat
Menhgandung satu atau lebih bahan obat, yang digunakan untuk terapeutik
Contoh :   Sirupus sebagai expectorant     : sirup thymi
Sirupus sebagai antitusiv         : sirup codein
Sirupus sebagai antihelmintik : sirup piperazin
Sirupus antibiotic                    : sirup kloramfenikol
Pembuatan sirup
Kecuali dinyatakan lain dibuat sebagai berikut ; Buat cairan utk sirup, panaskan, tambahkan gula  kemudian tambahkan air mendidih secukupnya sampai bobot yang dikehendaki.
Berdasarkan sifat fisika kimia bahan obat, sirup dapat dibuat 4 cara :
1.      Sirup dibuat dengan bantuan pemanasan
Untuk komponen sirup yang tidak rusak/menguap oleh pemanasan. Caranya gula dimasukan kedalam air, dipanaskan kemudian tambahkan komponen lain yang tidak tahan panas, biarkan dingin, dan volumenya disesuaikan sampai jumlah yang diminta dengan penambahan air. Untuk senyawa mudah menguap (alcohol, minyak atsiri)  ditambahkan terakhir.
2.      Sirup dibuat dengan pengadukan
Untuk menghindari panas yang merangsang inversi sukrosa, sirup dibuat dengan pengadukan. Misal sirup ferro sulfas. Proses ini memakan waktu yang lebih lama tapi mempunyai kestabilan maksimal.
3.      Penambahan sukrosa ke cairan obat
Untuk cairan obat seperti tinktur/ekstrak cair. Caranya campur tinktur/ekstrak dengan air, biarkan terpisah kemudian saring. Ambil filtratnya dan tambahkan sukrosa kedalam larutan sirup tersebut.
4.      Perkolasi sumber bahan obat/sukrosa
Sukrosa dapat diperkolasi untuk membuat sirup. Komponen obat diperkolasi untuk menjadi ekstrak kemudian tambahkan sukrosa
Misal : sirup ipecac, sirup tolu balsam

ELIKSIR
Eliksir adalah sediaan berupa larutan yang mempunyai rasa dan bau yang sedap, mengandung bahan obat dengan bahan tambahan seperti pemanis, zat warna, pewangi dan pengawet, digunakan sebagai obat dalam.
Sebagai pelarut utama : etanol, dpt ditambahkankan gliserol, propilenglikol, sorbitol
Ciri khas eliksir
1.      Mengandung alkohol/etanol 3-44 %, biasanya 5-10%
2.      Rasanya manis tapi tidak semanis sirup
3.      Pemanis yang digunakan: gula/sirup gula, sorbitol, gliserin, saccharin
4.      Warna dan aroma menarik
5.      Karena bersifat hidroalkohol, dapat menjaga stabilitas obat

Pembuatan eliksir
Larutan sederhana dengan pengadukan / pencampuran dua atau lebih bahan cair.
Komponen yang larut air dilarutkan dalam air, komponen larut alkohol dilarutkan dalam alkohol. Campurkan larutan air ke dalam larutan alkohol, cukupkan sampai volume yg ditentukan. Larutan akhir biasanya keruh, maka didiamkan dulu beberapa menit kemudian disaring.
 Contoh : phenobarbital eliksir
            R/  Phenobarbital        4
                  Propilen glikol       100 ml
                  Alcohol                 200 ml
                  Sorbitan solution   600 ml
                  Orange oil             0,25 ml
                  Aquadest ad          1000 ml
NETRALISASI  DAN  SATURASI
Netralisasi adalah obat minum yang dibuat dengan mencampurkan suatu asam dengan basa (carbonat atau bicarbonat), dimana gas CO2 yang terbentuk dihilangkan
Saturasi adalah obat minum yang dibuat dengan mereaksikan suatu asam dengan basa (carbonat atau bicarbonat), dimana harus dijaga supaya cairan mengandung gas CO2 yang jenuh.
Potio effervescent adalah obat yang mengandung gas CO2 yang sangat/lewat jenuh dibandingkan saturasi
Daftar /tabel penjenuhan : tabel IX di NP V
Contoh saturasi: potio riveri (NP V)
R/        Na bicarbonas             6
                        acid citricum               5
                        sir simplex                    25
                        spiritus citri                 5
                        Aqua                           160
Pembuatan saturasi mengikuti aturan pembuatan Potio Riveri
1.      Zat- zat netral dilarutkan dalam larutan asam
2.      Zat-zat yang mudah menguap, tincture, ekstrak dalam jumlah sedikit dilarutkan dalam bagian yang asam yaitu asam citrat.
3.      Senyawa yang bereaksi alkalis seperti Natrii Benzoas, natrii salicylas, dilarutkan dalam bagian basa yaitu larutan Natrii Bicarbonas.
4.      Zat – zat seperti Phenobarbital Natrium dan Aminophilin meskipun dapat larut dalam bagian basa tetapi pada penambahan bagiam asam akan menyebabkan terjadinya endapan maka zat – zat tersebut tidak boleh dicampur dalam potio riveri tetapi dipisah dibuat serbuk
5.      Pada pembuatan larutan secara netralisasi dapat dipanaskan dan dikocook, sedangkan pada pembuatan secara saturasi harus dibuat dalam keadaan dingin dan tidak boleh dikocok.

Perhatian pada pembuatan saturasi
1.      30 % air dipakai untuk melarutkan asam dan 70 % air untuk melarutkan basa
2.      Selalu bagian asam ditambahkankan ke bagian basa
3.      Zat yang besar bobotnya ditambahkan dibagian asam untuk memperbesar BJ, sehingga jika dituang ke bagian basa dapat langsung ke bawah
4.      Pada saturasi tidak boleh ada endapan, tidak boleh dikocok/sering dibuka
5.      Zat yang mudah menguap dicampurkan terakhir, tidak boleh dibolak balik
6.      Garam netral dalam jumlah besar : 30 % pd bagian asam dan 70% pd bagian basa
7.      Zat yang ditambahkan ke bagian basa :
Garam dari asam yang sukar larut (benzoat, salisilat), Garam NH4 dan K , jika ada asam tartrat, Garam Ca , jika ada citrat
8.      Zat yang ditambahkan ke bagian asam :
Sirup-sirup, garam alkaloid, antipyrin, codein,ekstrak dan tinktur, zat yang mengandung lender, spiritus citri
9.      Tidak boleh menambahkan gom
10.  Dibuat pada suhu serendah mungkin
11.  Sebelum dicampur bagian asam dan basa dapat disaring, tapi setelah dicampur tidak boleh disaring lagi
           
            Pembuatan netralisasi
  1. Asam dinetralkan dengan ammonia liquid
a.       Asam yg sukar larut dalam air : asam salisilat, asam benzoate
Dihaluskan dulu dengan sedikit air (sehingga terbentuk suspensi) kemudian ditambahkan ammonia liquid setetes setetes. Periksa dengan Lakmus
b.      Asam yg mudah larut dalam air : asam asetat, asam sitrat
Asam dilarutkan dalam air kemudian tambahkan ammonia liq
  1. Asam dinetralkan dengan karbonat
Asam yang sukar larut dihaluskan dulu dengan air panas kemudian tambahkan karbonat dan dikocok sampai CO2 lenyap

            Evaluasi
                  Kerjakan resep-resep obat cair dibawah ini !
  1. R/        Ephedrine HCl            0,3
Ammonii chloride       4
                        Sir. Simplex                 20
                        Aqua ad                      180
                        S.t.d.d.C

  1. R/        Sol.Charcot                 200
Luminal Na                 0,5
                        Valerianae tinct.          5
                        S.4.d.d.C

  1. R/        Phenobarbital 4
Propilenglikol  100 ml
Etanol              200 ml
Sorbitol           600 ml
Ol.citri             gtt III
Aqua ad          1 lt
S.3.d.d C1

  1. R/        Acetaminophen elixir 100
m.f. da cum formula
S.3 d.d CthII

  1. R/        Potio Riveri            150
                                    Codein Hcl              0.2
                                    m.f.potio effev.
                                    s.1.d.d.C

6.   R/        Acid citrat                 2
                                    Natrii Bicarbonat      qs
                                    Opii tintura                2
                                    Aq. Ad                     100
                                    m.f.pot. 100        







POKOK BAHASAN  X
TOPIK : EMULSI

Tujuan instruksional umum :
Mahasiswa mampu menjelaskan aturan / cara pembuatan emulsi
Tujuan instruksional khusus :
  • Mengetahui jenis-jenis emulgator dan tipe-tipe emulsi
  • Menjelaskan aturan / cara pembuatan emulsi 
  • Menghitung nilai HLB untuk emulsi dengan surfaktan

Metoda : ceramah, diskusi/tanya jawab
Waktu : 120 menit











X. EMULSI

Definisi Emulsi
Emulsi merupakan campuran dua zat cair/lebih yang tidak bercampur satu sama lain, tapi dapat bercampur secara homogen dengan bantuan suatu emulgator.
Emulsi merupakan suatu dispersi dimana zat cair yang satu (fase dalam) terdispersi dalam partikel halus zat cair lainnya (fase luar)
Tujuan pemberian obat bentuk emulsi
1.      Obat minum
Rasa obat yang tidak enak dapat diperbaiki
Minyak yang berupa emulsi diabsorpsi lebih cepat pada saluran cerna
2.      Obat luar
Partikel obat yang sudah halus akan menambah luas permukaan sehingga efektifitas obat meningkat
3.      Obat suntik
Beberapa emulsi minyak dalam air dengan syarat partikel minyak tidak lebih besar dari eritrosit

Tipe emulsi
Tipe A/M atau W/O
Air terdispersi rata dalam fase minyak, proporsi fase minyak lebih banyak daripada air

Tipe M/A atau O/W
Minyak terdispersi rata dalam larutan air, proporsi fase air lebih banyak daripada minyak

Emulgator
a.       Emulgator alam
Gom arab, perb gom : minyak = 1:4
Tragacant
PGS : campuran sama banyak ( gom: tragacan : sakarosa )
Kuning dan putih telur
b.      Emulgator semisintetik polisakarida
Metil selulosa  : 2 %
Na CMC         : 0,5-1%
c.       Emulgator sintetik : surfaktan
Surfaktan mempunyai gugus hidrofilik (hidroksil, karboksil, sulfonat, amina) dan lipofilik (rantai hidrokarbon)
Jumlahnya 5-10% dari total sediaan atau 5-20% dari fase minyak
Surfaktan anionik ( Na stearat, Na lauryl sulfat, dioktil natrium sulfosuksinat )
Surfaktan nonionik :
Span 20  (sorbitan monolaurat)
Span 40  (sorbitan monopalmitat)
Span 60  (sorbitan monostearat)
Tween 20 (polioksietilen sorbitan monolaurat)
Tween 40 (polioksietilen sorbitan monopalmitat)
Tween 60 (polioksietilen sorbitan monostearat)
Tween 80 (polioksietilen sorbitan monooleat)

Sifat emulgator menentukan tipe emulsi
Emulgator larut air (hidrofil) : tipe emulsi M/A
Contoh : PGA, tragacant, PGS, agar-agar, viteliun ovi, tween, na lauryl sulfat
Emulgator larut minyak (lipofil) : tipe emulsi A/M
Contoh : Kolesterol, span, sabun polivalen

Teori  emulsifikasi
Teori-teori yang mendukung hal-hal yang berkaitan dengan emulsi dalah :
1.      Teori Tegangan Permukaan
      Cairan A dan B tidak homogen, slah satu cairan terdispersi karena adanya daya kohesi, tetapi cairan A dan B akan memisah kembali. Dengan penambahan emulgator tegangan permukaan ke dua cairan dapat bercampur homogen.
2.      Teori Susunan Terarah pada antar Permukaan
      Emulgator terdiri dari gugus polar dan gugus non polar, emulgator yang baik gugus polar akan lebih kuat dari non polar atau sebaliknya. Jika terlalu jauh kekutannya kerja emulgator tidak baik karena akan mesuk ke bagian cairn yang sejenis.
3.      Teori Lapisan antar Permukaan ( Teori Film )
      Emulsi akan stabil jika partikel film terbungkus, adanya emulgator menyebabkan tidak terjadinya kohesi. Emulgator membentuk susunan terarah pada antar permukaan.
4.      Teori Perbandingan Fasa
      Menurut Stwalt emulsi yang stabil bentuk stereometris partikel adalah kubik, 50 % fasa terdispersi mengisi volume
5.      Teori Muatan Listrik
      Partikel bermuatan listrik karena gesekan ( untuk zat non ionic ) atau karena ionisasi ( untuk zat ionic ) akan meningkatkan beda potensial hal ini membuat emulsi makin stabil. Jika penambahan elektrolit maka muatan akan berubah, potensial menurun dan menyebabkan emulsi pecah.

Pembuatan emulsi
1.      Metode gom kering / metode 4:2:1
Caranya :  4 bagian minyak dicampur dengan  1 bagian gom digerus dalam lumpang, kemudian tambahkan 2 bagian air sekaligus, digerus segera dan kuat sampai terbentuk korpus emulsi, kemudian baru ditambah sisa air dan bahan tambahan lainnya
2.      Metode gom basah
Caranya : dibuat mucilago dengan menghaluskan gom dan air (2 kali berat gom) dalam lumpang, tambahkan minyak perlahan-lahan, digerus sampai menjadi emulsi. Metode ini cocok untuk emulsi dengan minyak yang sangat kental
3.      Metode botol
Metode ini digunakan untuk emulsi yang dibuat dari minyak menguap dan mempunyai viskositas rendah.
Caranya : gom ditaruh dalam botol kering ditambah 2 bagian air, dikocok kuat-kuat, kemudian tambahkan minyak , kocok sampai terbentuk masa emulsi dan diencerkan dengan penambahan air
4.      Metode HLB
Metode ini menggunakan emulgator surfaktan (tween dan span).
Caranya : minyak dicampur dengan span dipanaskan diatas water bath suhu 70  C (masa 1). Tween dilarutkan dengan air panas 70 C (masa 2). Campur masa 1 dan 2, gerus sampai terbentuk masa emulsi kemudian tambahkan sisa air.

Emulsi dapat dibagi menjadi 2, yaitu :
1.      Emulsi Vera ( emuls Alam )
      Dibuat dari biji atau buah berupa minyak lemak dan berupa emulgator ( seperti putih telur )
      Emulsi yang dibuat dari biji berasal dari biji Amygdala dulcis, A. amara. Sedangkan yang dari semen seperti Cucurbitae semen.
      Bila tidak dinyatakan lain untuk 10 bagian biji dibuat 100 bagian emulsidan biji harus dicuci sebelumnya.
      Pembuatan emulsi bji Amandel :
a.       Timbang biji amandel dengan kulit, masukkan ke dalam mortal berisi air panas biarkan sampai kulit terkelupas lalu biji dicuci
b.      Biji yang telah dicuci tambahkan air sebanyak 20 % dari berat biji amandel tumbuk dan gerus hingga lembut
c.       Masa biji yang lembut diencerkan dengan air 1/3 dari yang diperlukan kemudian diserkai dan diperas
d.      Masa perasan ditambahkan air lagi 1/3, campur dan diserkai lagi hingga diperoleh 100 bagian emulsi.
Emulsi dikatakan baik pembuatannya jika emulsi berwarna putih seperti susu. Jika emulsi berwarna biru biasanya pelumatan biji belum cukup.

2.      Emulsi Spuira ( emulsi Buatan )
Dengan penambahan emulgator dan air maka kan terbentuk suatu emulsi.
    1. Emulsi dengan Minyak Lemak
Menggunakan gom arab sebagai emulgator dengan perbandingan ½ jumlah minyak lemak
    1. Emulsi dengan Paraffin Liquidum
Dibuat dengan menggunakan PGA sama berat
    1. Emulsi dengan Cera / lemak padat
Cera dilebur dalam Water Batch lalu tambahkan PGA sama berat dengan lemak, segera tambahkan air panas sebanyak 1,5 kali berat PGA kemudian gerus hingga terbentuk korpus emulsi. Encerkan dengan air hangat, masukkan ke dalam botol kemudin gojlok  hingga dingin.
    1. Emulsi dengan Extractum Spissum
PGA 2,5 % dari total emulsi.
Bila terdapat minyak lemak, ekstrak ditambahkan pada minyak lemak, emulsi dengan PGA.
Jumlah PGA    : sama berat dengan ekstrak, ½ berat minyak lemak
Jumlah air        : 1/5 kali berat PGA
Bila terdapat sirup dan gliserin dicampurkan dengan korpus emulsi.
Tincture, larutan alkoholis, larutan elektrolit ditambahkan terakhir setelah pengenceran, agar emulsi tidak pecah.
    1. Emulsi dengan Minyak Eteris Kreosotum, Benzylis enzoas
Dibuat denga TEA : asam sterarat = 1 : 4, untuk sediaan kulit
Asam stearat dilebur dalam water batch hingga meleleh, kemudian TEA dialarutkan dalam air, emulsi dibuat pada suhu 70 0C
    1. Emulsi dengan Balsamum Peruvian, B. Copaivae, terebinthina Laricina
Dibuat dengan PGA 2 kali bert balsam ( bila ada minyak lemak, maka PGA sama berat dengan balsam, dan ½ berat minyak lemak. Jika minyak lemaknya oleum ricni PGA 1/3 nya )
Balsamum Peruvian tidak larut dalam minyak lemak ( kecuali dengan oleum ricini )
Jika minyak lemaknya bukan oleum ricini maka minyak lemak ditambahkan seluruh PGA hingga terbetuk korpus emulsi, kemudian tambahkan Balsamum Peruvian aduk perlahan-lahan, encerkan dengan air.
    1. Emulsi dengan Bromoformum
Emulsi tidak stabil dan mudah pecah.
Pada sediaan minuman ditambahkan minyak lemak 10 kali berat bomo ( jumlah PGA yang dipkai sama bera dengan bromo dan ½ berat minyak lemak )
Bila dalam minyak lemak terdapat zat-zat padat seperti champora, mentol, maka tambahkan PGA sama berat zat yang dilarutkan.
Emulsi dengan emulgator lain
1.      Tragacant
      Mengembang dalam air, emulsi yang terbentuk kurang halus dan tidak stabil, biasanya dikombinasikan dengan PGA untuk meningkatkan viskositas fase luar sehingga emulsi lebih stabil. Air yang digunakan 20 kali berat tragachan.
2.      Pulvis Gummosus
      Emulsi dibuat lender kemudian ditetesi minyak lemak, air = 7 kali beratnya
3.      Agar-agar
      Dilarutkan dalam air panas, biarkan 24 jam,kemudian didihkan lagi. Viskositas larutannya tinggi, biasanya penggunaan dikombinasi dengan emulgator lain.
4.      Carboxymethylcellulosum (CMC)
      Kadar 0,5 % – 1 %, dapat bercampur dengan asam / basa dan larutan alcohol
      Dibedakan atas CMC HV (High Viscosity), CMC MV (Medium Viscosity), CMC LV (Low Viscosity).
5.      Sapo
      Untuk penggunaan luar, pembutan dengan mereaksikan asam dan basa.
      Penggunaan Sapo Kalinus 5 % dari berat emulsi seluruhnya sedangkan Sapo Medicatus 2,5 % dari berat emulsi seluruhnya.
      Pembutan emulsi dengan melarutkan sabun dalam air ( berat air 5 kali berat sapo ) dengan mengerus / memanaskan dalam water batch.
6.      Vitellum Ovi
      Emulgator kuning telor dengan daya emulsi sama dengan PGA 10 gram, dapat bercampur dengan zat yang bereaksi asam.
      Pembutan emulsi dengan mengerus kuning telur dalam mortar kuat-kuat, kemudian masukkan minyak sedikit-sedikit, encerkan dengan air dan saring dengan kasa.
7.      Tween dan Span ( surfaktan )
      Merupakan senyawa derivate sorbitan.
      Span          : Ester dari sorbitan dengan asam lemak
      Tween       : Ester dari sorbitan dengan asam lemak dan mengandung ikatan eter dengan oksietilen.
      Surfaktan dapat menurunkan tegangan entar muka minyak / air dan membentuk film monomolecular

Hydrophil Lypophil Balance (HLB)
HLB adalah keseimbangan antara gugus hidrofil dan gugus lipofil yang ada dalam moleukul surfaktan atau karakteristik polaritas relative suatu surfaktan.
Hubungan nilai HLB dengan bermacam tipe system
            Nilai HLB                               Tipe Sistem
            3   –   6                                    Emulgator tipe A/M
            7   –   9                                    Zat pembasah ( Wetting agent )
            8   –   18                                  Emulgator M/A
            13 –   15                                  Zat pembersih ( detergent )
            15 -    18                                  Zat penambah pelarutan ( solubilizer )                       
Makin rendah nilai HLB suatu surfaktan makin lipofil, sedangkan makin tinggi nilai HLB sutu surfaktan makin hidrofil.
Span HLB 1,8 – 8,6 adalah lipofil, tipe emulsi yang terbentuk adalah A/M
Tween HLB 9,6 – 16,7 adalah hidrofil, tipe emulsi yang terbentuk adalah M/A

Menghitung nilai HLB dari campuran surfaktan
            R/        Tween 80        70 %                HLB = 15
                        Span    80        30 %                HLB = 4,5
Perhitungan
                        Tween 80 = 70 % x 15  = 10,5
                        Span    80 = 30 % x 4,5 = 1,3            
                        HLB campuran              = 11,8

HLB Butuh adalah harga HLB kombinasi emulgator yang dapat membentuk emulsa yang relative paling stabil bila dibandingkan dengan emulsa dengan harga HLB lain dari kombinasi yang sama.
            R/        Parafil liq                                 20 %
                        Emulgator ( Tween, Span )     5 %
                        m.f. emuls 100
                        S u c
            Perhitungan dengan cara Aligasi
            Diketahui        Parafin liq        HLB butuh      = 12
                                    Tween 60        HLB                = 14,9
                                    Span    60        HLB                = 4,7



                        14,9                             7,3
                                            12           
                        4,7`                              2,9
                                                            10,2
                        paraffin liq      20 % x 100 = 20 g
                        emulgator        5 %   x 100 = 5 g
                        Tween 60 = 2,9 / 10,2 x 5   = 1,422 g  ( perbandingan yang digunakan
Span    60 = 7,3 / 10,2 x 20 = 3,578 g     untuk membuat emulsi )

Menghitung HLB yang diperlukan dari campuran zat yang akan diemulsikan
Cara membuat lotion tipe M/A
            R/        Parafin liq                    35
                        Lanolin                        1
                        Cetyl alcohol               1
                        Emulgator                   7
                        Aqua                           56

Perhitungan :
Fase campuran minyak = 35 % + 1 % + 1 % = 37 %
Nilai HLB yang diperlukan untuk emulsi tipe M/A
Paraffin liq      35 / 37 x 12     = 11,4
Lanolin            1 / 37   x 10     = 0,3
Cetyl alcohol   1 / 37   x 14     = 0,4
Nilai HLB yang diperlukan dari emulgator adalah 11,4 + 0,3 + 0,4 =12,1
Kombinasi emulgator yang mempunyai HLB 11 – 13 yang akan memberikan hasil emulsi yang baik.
Penggunaan emulgator biasanya 54 – 20 % dari berat fase minyak.
Menentukan HLB ideal dan tipe kimia surfactant dilakukan dengan eksperimen, hal ini untuk zat yang kebutuhan HLB nya tidak diketahui.
Ada tiga fase yaitu :
1.      Fase I
      Menentukan HLB yang dibutuhkan secara kira-kira, dibuat 5 macam atau lebih emulsi dengan sembarang campuran surfaktan. Bedakan salah satu yang terbaik dan dijadikan HLB kira-kira.
2.      Fase II
      Membuat 5 macam emulsi lagi dengan nilai HLB disekitar HLB yang diperoleh dari fase I, emulsi yang terbaik diajadikan nilai HLB ideal.
3.      fase III
      membuat 5 macam emulsi lagi dengan nilai HLB dari fase II, dari emulsi yang paling baik, dapat diperoleh campuran surfaktan yang paling baik ( ideal ).
Penyimpanan dalam wadah tertutup rapat berupa botol mulut lebar
Pada etiket harus tertera “ KOCOK DAHULU “





Evaluasi
Kerjakan  resep-resep dibawah ini  !
1. Emulsi minyak ikan
    R/     Oleum iecoris aselli    100 g
             Gliserol                       10 g
             Gom arab                   30 g
             Ol. cinamomi              6 gtt
             Aquadest        ad   215 g       

2. R/    Phenolftalein   0,2
            Paraffin liq      20
            Ol.sesami         25
            PGA                qs
            m.f. emulsi  100 ml
            S.t.d.d C1













POKOK BAHASAN  XI
TOPIK  :  SUSPENSI

Tujuan instruksional umum :
Mahasiswa mampu menjelaskan aturan / cara pembuatan suspensi
Tujuan instruksional khusus :
  • Mengetahui jenis-jenis pensuspensi
  • Menjelaskan aturan / cara pembuatan suspensi  
  • Mampu mengerjakan resep suspensi

Metode : ceramah, diskusi/tanya jawab
Waktu : 120 menit










XI. SUSPENSI

Definisi suspensi
Suspensi adalah Sediaan cair yang mengandung bahan padat yang terdispersi dalam bahan pembawa, Sediaan cair yang heterogen yang terdiri 2 fase (padat dan cair) dan salah satu fase tidak larut dan terdispersi dalam fase lainnya.

Alasan dibuat sediaan suspensi
1.      Sedian cair untuk yang sukar menelan (anak-anak dan manula)
2.      Obat tertentu tidak stabil secara kimia dalam bentuk larutan tapi stabil bila dibuat suspensi
3.      Kelarutan bahan obat lebih kecil daripada dosis obat tersebut.
Sasaran Utama dalam pembuatan sediaan Suspensi :
Memperlambat kecepatan sedimentasi dan mengupayakan partikel yang membentuk itu dapat disuspensi lagi dan cukup homogen selama waktu yang diperlukan

Sifat Suspensi yang Baik:
1.      Ukuran partikelnya memenuhi syarat suspensi dan seragam, suspensi oral = 1 um -100 um
2.      Mempunyai kekentalan (viskositas yang tidak terlalu kental dan tidak terlalu encer
3.      Tidak cepat mengendap
4.      Mudah terdispersi lagi jika terjadi endapan, dengan pengocokan ringan
5.      Tidak terjadi endapan yang membatu (caking)
6.      Jika mengadung gula, tidak terdapat endapan gula/kerak di mulut botol
7.      Mempunyai sifat aliran yang cocok
8.      Stabil secara kimia, fisika dan mikrobiologis
9.      Harus mempunyai kehalusan yang baik untuk injeksi

Bentuk suspensi berdasarkan pemakaiannya
1.      Suspensi internal   : diberikan secara oral (contoh antibiotik, trisulfa, antasida )
2.      Suspensi eksternal : untuk obat luar
      Untuk permukaan kulit                             : lotio
      Untuk pemakaian secara parenteral          : injeksi
      Untuk mata                                               : tetes mata

Zat pensuspensi
  1. Gom arab
Serbuk : 2 g/100 ml
Mucilago : 10-20 ml/150 ml
Cara : gom + air 1,5 kalinya, aduk ad homogen
OTT dengan : alkohol > 35 %, logam berat dan alkaloid ( mis. Atropin, hyosciamin, cocain)
  1. Tragacant  : 1-2 %,  pH= 4 -7,5
Cara : tragacan + air 20 kalinya, gerus homogen
Sifat aliran : tiksotropik, pseudoplastis
  1. Pati  : 2 %
  2. Metil cellulose : 0,5 – 2 %
Pembuatan mucilago : MC + air panas 10 kalinya, aduk selama 2 jam + sisa air, dapat disimpan 16 jam
OTT dengan phenol, resorcin, as tanat, chlorocresol, perak nitrat
  1. Na CMC : 0,25 – 2 %,  pH = 5-10
Pembuatan mucilago : Na CMC + air panas 20 kalinya, biarkan 15 menit
OTT dengan larutan asam, ion logam ( Al, Zn, Hg, Fe, Ag)
  1. CMC : 0,5 – 2 %, pH = 4-11
Pembuatan mucilago = Na CMC
  1. Na alginate : 1-2%,  pH= 4,5 –11,5
Untuk mencegah gumpalan : ditambahkankan 2-4% alkohol, gliserin, propilenglikol
OTT dg logam alkali, logam berat, asam2
  1. Bentonit : 2-5%,  pH= 9-11
Untuk sediaan eksternal, pembuatan mucilago : bentonit + air 20 kalinya
OTT dengan alkohol, elektrolit
  1. Veegum : 0,5 – 2%
Cara buat mucilago : veegum + air 16 kalinya

Metode Pembuatan Suspensi
1.      Metode Dispersi
Zat padat yang mudah dibasahi dan didispersikan dengan medium pendispersi.
Cara : zat padat digerus dgn pembasah lalu ditambahkan air (mis. zat padat + PGS   
          + air 7 kalinya)  

2.      Metode Prespitasi, ada 3 :
a.       Prespitasi dengan pelarut organik
Zat yang tidak larut dalam air dapat diendapkan dengan menambahkan pelarut organik yang dapat bercampur dengan air.
            Contoh; etanol, propilenglikol
b.      Prespitasi dengann perubahan pH dari media
Hanya dipakai pada obat yang kelarutannya tergantung pada pH.
Contoh : suspensi insulin
c.       Prespitasi dengan dekomposisi rangkap
Contoh pembuatan white lotion ( terbentuk zink polisulfida dengan mencampur zink sulfat dengan larutan Kalium tersulfurasi )


Evaluasi
Kerjakan resep-resep suspensi dibawah ini !
1. R/    sulfadimidin    7,5
            acetosal           2,5
            sir.simplex       50
            pulvis gummosis 25
            bellad.extr       0,1      

2. R/    Lotio kumerfeldi         100
            m.f  lotio da cum formula
            S.u.e


3.      R/  Tetrasiklin 125 mg/dosis
CMC               qs
Sir.simplex      10
Aqua ad          60
            S.q.d.d C1


















POKOK BAHASAN  XII
TOPIK : SUPPOSITORIA

Tujuan instruksional umum :
Mahasiswa mampu menjelaskan aturan / cara pembuatan supositoria
Tujuan instruksional khusus :
·         Mengetahui jenis-jenis supositoria dan basis supositoria
  • Menjelaskan aturan / cara pembuatan supositoria
  • Mampu mengerjakan resep supositoria

Metode : ceramah, diskusi/tanya jawab
Waktu : 120 menit










XII. SUPPOSITORIA

Definisi
Supositoria adalah sediaan padat yang pemakaiannya dimasukan ke dalam lubang/celah pada tubuh, dapat melunak, melarut atau meleleh pada suhu tubuh dan memberikan efek lokal maupun sistemik.

Jenis Supositoria
b.      Supositoria analia = supositoria
Supositoria yang dimasukan kedalam rectum/dubur, berbentuk torpedo atau peluru. Beratnya 3 g (dewasa) dan 2 g (anak-anak)
Tujuan memberikan obat dalam bentuk supositoria :
·         Untuk  efek local :
-          untuk menghilangkan rasa sakit & konstipasi (laksatif)
-          untuk mengatasi iritasi, gatal & radang pada wasir/ hemorrhoid
·         Untuk efek sistemik :
-          analgetik antipiretik
-          antihistamin, antiemetik
-          untuk mengobati asma
-          hipnotik sedative
-          antispasmodic


c.       Supositoria vaginalia = ovula
Supositoria yang dimasukan kedalam vagina, berbentuk telur/oval.
Beratnya 5-15 g.
Tujuannya untuk efek lokal, misal flour albus, trichomoniasis
d.      Supositoria urethralia = bacilla = bougie
Supositoria yang dimasukan ke dalam uretra, berbentuk batang. Beratnya 2-4 g

Untuk mendapatkan efek sistemik, bentuk supositoria mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan pemakaian secara oral :
-          Dapat menghindari terjadinya iritasi lambung
-          Dapat menghindari kerusakan obat oleh asam lambung atau enzim pencernaan
-          Memberi efek lebih cepat karena langsung masuk sirkulasi sistemik
-          Cocok untuk pasien yang suka muntah atau tdk sadarkan diri
-          Cocok untuk pasien dewasa atau anak-anak yang tidak mau menelan obat

Bahan Dasar Supositoria    
Syaratnya :
·         mempunyai titik lebur diatas suhu kamar dan dibawah suhu tubuh (37 C)
·         tidak memberikan iritasi pada mukosa
·         tidak lekas tengik
·         tidak berinteraksi dengan bahan obat berkhasiat


Klasifikasi bahan dasar/basis supositoria
·         Basis berminyak/berlemak
-          oleum cacao
-          asam palmitat  + gliserin = gliseril monopalmitat
-          asam stearat + gliserin = gliseril monostearat
·         Basis yang larut dalam air/bercampur dengan air
-          gelatin gliserin
sifatnya : higroskopis, lebih lambat melunak & bercampur dengan cairan tubuh daripada oleum cacao sehingga waktu pelepasan obatnya lebih lama
-          polietilen glikol (PEG)
sifatnya : tidak melebur ketika terkena suhu tubuh tapi melarut perlahan-lahan dalam cairan tubuh
·         Basis lain, bersifat seperti lemak dan larut dalam air
Missal polioksil 40 stearat dengan titik lebur 39-45 C

Pembuatan supositoria
1.      Cara menuang
Caranya :
-          melebur basis/bahan dasar
-          mencampurkan bahan obat (jika obatnya sukar larut dalam basis, maka diserbuk yang halus)
-          menuang hasil leburan kedalam cetakan
-          didinginkan di freezer
-          lepaskan dari cetakan (cetakan terbuat dari stainless steel, alumunium, tembaga atau plastic)
-          dalam pembuatannya bahan –bahan dilebihkan 50 %
pelumasan cetakan sebelum leburan dituang diperlukan untuk memudahkan terlepasnya supositoria. Pelumas yang biasa digunakan yaitu paraffin, minyak lemak
2.   Cara mencetak/ kompresi
-          supositoria dibuat dengan menekan massa yang terdiri dari campuran basis dengan bahan obat dalam cetakan khusus/mesin kompresi, umumnya di industri
-          cocok untuk pembuatan supositoria yang mengandung bahan obat yang tidak tahan pemanasan dan bahan obat yang sebagian besar tidak dapat larut dalam basis
3.  Cara menggulung
-          oleum cacao yang sudah diiris halus dicampur dengan bahan obat, digerus homogen. Kemudian dibentuk dengan cara menggulung memakai alumunium foil, dan ditambah zat penabur/amylum
-          dalam pembuatan supositoria dilebihkan 1 buah.

Supositoria dengan basis oleum cacao
Sifat oleum cacao / lemak coklat :
-          Jika dipanasi pada 30 C akan mencair, dan meleleh pada suhu 34 – 35 C
-          Pada suhu < 30 C : berupa masa semi padat mengandung banyak kristal dari trigliserida padat
-          Bila didinginkan < 15 C akan mengkristal dalam bentuk metastabil
-          Oleum cacao hanya menyerap sedikit air
-          Jika ditambah cera flava akan meningkatkan daya serapnya dan meninggikan titik lebur
-          Penambahan cera flava tidak boleh > 6 % dan tidak < 4 %

Pembuatan supositoria percobaan  : untuk menentukan jumlah basis
-          timbang obat/zat aktif  untuk sebuah supos
-          campur obat tersebut dengan sedikit basis yang sudah dilelehkan
-          masukan kedalam cetakan, tambahkan leburan basis sampai cetakan terisi penuh, dinginkan
-          keluarkan dari cetakan dan ditimbang
-          berat supositoria dikurangi berat obatnya merupakan berat basis yang harus ditambahkan

Nilai tukar : utnuk mengetahui berat lemak coklat yang mempunyai besar volume yang sama dengan 1 g obat
Dalam praktek nilai tukar beberapa obat adalah 0,7, kecuali untuk garam bismuth dan zinci oxydum. Untuk larutan dianggap nilai tukarnya adalah 1.
Contoh
R/ Aminophylin          0,5
     Oleum cacao          qs
                 m.f supp. dtd no.X
      S 3 dd 1supp
Missal berat supos = 3 g
Diketahui nilai tukar aminophylin = 0,86 ( dari daftar nilai tukr di Nh Ph V)
Diminta untuk membuat 10 suppos
Maka :  aminophylin yang diperlukan = 10 x 0,5 g = 5 g
             Berat suppose = 10 x 3 g = 30 g
             Nilai tukar aminophylin = 5 g x 0,86 =      4,3 g
Jadi oleum cacao yg diperlukan = 30 g – 4,3 g =   25,7 g

Supositoria dengan basis gelatin gliserin
-          sifatnya : melarut perlahan-lahan (long acting), efek local, kelembaban disekeliling dijaga karena gelatin higroskopis
-          kerugian gelatin gliserin : membantu pertumbuhan bakteri & jamur, sehingga perlu ditambahkan pengawet, juga dapat terjadi dehidrasi & iritasi
Pembuatan :
-          panasi 2 bagian gelatin dengan 4 bagian air dan 5 bagian gliserin sampai terbentuk masa yang homogen
-          tambahkan air panas hingga diperoleh 11 bagian
-          biarkan masa cukup dingin dan tuang kedalam cetakan hingga berat supositoria 4 g
-          obat yang ditambahkan dilarutkan/digerus dengan sedikit air/gliserin yang disisakan, dicampur pada masa yang telah dingin



Supositoria dengan basis PEG
-          PEG = polietilenglikol mrp polimer etilen oksida dengan air, dengan BM antara 200 sampai 6000
-          PEG dengan BM 200,400 & 600 berbentuk cairan bening, tidak berwarna
-          PEG dengan BM > 1000 berbentuk padat lunak seperti malam
-          Basis ini mudah larut dalam cairan rectum & tidak mudah meleleh pada penyimpanan suhu kamar
-          Keuntungan PEG : mempunyai kisaran titik lebur & kelarutan, sehingga dapat memformulasi dengan berbagai kestabilan terhadap panas & laju disolusi yang berbeda, PEG tidak terhidrolisa, inert, tidak membantu pertumbuhan jamur & dapat dikombinasi
-          Kerugian PEG : basis tidak mengandung air sehingga dapat mengiritasi membrane mukosa, maka sebelum digunakan dicelupkan dulu kedalam air
Pembuatan :
dilakukan dengan melelehkan bahan dasar lalu dituang kedalam cetakan seperti pada pembuatan supositoria dengan bahan dasar ol.cacao
contoh formula basis PEG
R/ PEG 1500   1 bagian
     PEG 400    2 bagian
R/  PEG 1000     75 – 95 %    
      PEG 3350     25 – 5 %



Evaluasi
Kerjakan resep supositoria dibawah ini !
1. R/    Aminophylin   0,5
            Phenobarbital  0,05
            m.f.supp d.t.d No X
            S.u.c

2. R/   Bellad.extract   0,02
opii extract      0,05
            m.f.supp d.t.d No.V
            S.3.d.d.Supp1
















POKOK BAHASAN  XIII
TOPIK : PIL

Tujuan instruksional umum :
Mahasiswa mampu menjelaskan aturan / cara pembuatan pil
Tujuan instruksional khusus :
·         Mengetahui bahan tambahan pembuat pil
·         Menjelaskan cara pembuatan pil secara umum dan dengan bahan khusus
·         Mampu mengerjakan resep pil

Metoda : ceramah, diskusi/tanya jawab
Waktu : 120 menit









PIL

Pil ---> Sediaan yang berbentuk bulat kecil spt kelereng mengandung 1 atau lebih bahan obat. Beratnya  100~500 mg.
Zat tambahan untuk membuat pil :
-          Zat pengisi ; Liquiritiae radix, sach lactis
-          Zat pengikat : Succus liquritiae, PGA, tragacant, pulvis gommasus, oil cacao, adepslanae, vaselin
-          Zat pembasah : air, gliserol, sirup, madu
-          Zat penyalut : balsamum tolutanum, salol, gelatin, gula
Syarat pil dalam F1 ed III :
1.      Pada penyimpanan bentuknya tidak berubah, tidak begitu keras sehingga dapat hancur dalam saluran cerna
2.      Memenuhi keseragaman bobot
3.      Memenuhi waktu hancur

Cara pembuatan pil :
-          Serbuk obat + zat pengisi + zat pengikat   à    digerus halus
-          Kemudian ditetesi dengan pembasah (ex. Aqua,gliserin) -à digerus dan ditekan sampai terbentuk masa yang saling mengikat dan plastis
-          Setelah terbentuk masa pil, dibuat batang dengan cara digulung-gulungkan dengan papan kayu yang datar pada alat papan pil  -à dipotong-potong menurut ukuran --à digelinding-gelindingkan pada papan pil supaya bulat
-          Papan pil ditaburi lycopodium supaya pil tidak berbintik
Zat pengikat :
-          Succus liquritiae : 2 g untuk 60 pil
-          Pulvis gomasus : 300 mg untuk 30 pil (tragacant, PGA, sach album sama banyak)
-          Adepslanae atau vaselin pada kondisi tertentu
          # Terjadi reaksi anatara zat berkhasiat dengan air
                     ex. Asetosol dengan Na bic
                           Fenitoin dengan ichtamolum
                           Codein dengan ammonic chlrodium 
                # Adanya air merusak obatnya / obat akan terurai dengan adanya air
                        ex. Asetosal, Ascal
Pil yang mengadung obat berupa serbuk / padat :
-          R / luminal 0.05                                   digunakan 2 g liqurutiae radix
                  Reserpin 0.1 mg                              1 g succus liqurutiae dengan
                  Mf pil dtd no. xxx 3 dd pil                aqua gliserin
-          Jika zat berkhasiat bersifat oksidator digunakan :
                 # adepslanae / vaselin 1\6 berat zat padat
                 # bolus alba : 100 mg tiap pil
                R / KMnO4 0.1
                       Na bic  0.05
                       Bolus alba 0.05
                       Vaselin alb 0.5
                        Mf pil dtd no. xxx
Pil yang mengandung obat berupa ekstrak kental   :
-          Ekstrak kental direndam dengan spirtus dilutus & dicampur dengan liqurutiae radix
-          Jika jumlahnya sedikit ---à ditambah succus liq. 1 g / 30 pil
-          Juka jumlahnya besar ---à  > 1.5 g tidak perlu succus liq.



















DAFTAR PUSTAKA

1.      Howard C.Ansel, Introduction to Pharmaceutical Dosage Forms, Lea & Febiger, Washington, Philadelphia, 1985
2.      Dirjen POM Depkes RI, Kumpulan Peraturan Perundang-Undangan Bidang Obat, Jakarta, 1996
3.      UU RI No.5 tahun 1997 tentang obat Narkotik
4.      UU RI No. 22 tahun  1997 tentang obat psikotropik
5.      Peraturan .Menteri Kesehatan RI Nomor : 919/MENKES/PER/X/1993, tentang Kriteria Obat Yang Dapat Diserahkan Tanpa Resep
6.      Keputusan .Menteri Kesehatan RI Nomor : 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek
5.      Departemen Kesehatan RI, Farmakope Indonesia edisi ketiga, Jakarta, 1979
6.      Departemen Kesehatan RI, Farmakope Indonesia edisi keempat, Jakarta, 1998
7.      M.Hanif, Ilmu Meracik Obat, Teori dan Praktek, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 2000
8.      Farmakope Belanda , edisi kelima
9.      Nanizar Zaman, Ars prescribendi Resep Yang Rasional, Airlangga University Press, Surabaya, 1995
10.  Martindale, The Extra Pharmacoepeia





  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

3 komentar:

Cdr. Agung Hadi Wibowo mengatakan...

Keren blognya, bener2 informatif :)

milan el ikhwan mengatakan...

trimakash

ayuni elly mengatakan...

mas-nya ini juga sekolah Farmasi ya ?? keren dong, bisa tukar info, saya juga sekolah kejuruan farmasi, kelas XI, masih ijo belum ngerti apa2 xD

Poskan Komentar